Nahwu & Sharaf

Terjemah Nadhom Maqsud

Sebagaimana ketika fa’ fi’il ifti’al berupa dal, dzal atau za’ maka huruf ta’ wazan افتعل harus diganti dengan dal . Contoh : زجر – ازتجر – ازدجر . Jika fa’ fi’ilnya fi’il yang ikut wazan افتعل tersebut berupa ya’ , wawu , atau tsa’ mati maka huruf tersebut harus diganti dengan ta’ ( untuk meringankan ) lalu ta’ tersebut diidghamkan pada ta’ ifti’al . Seperti اوتصل menjadi اتصل .

Pembahasan:
1. Huruf ta’ yang ada dalam babnya wazan افتعال jika terletak setelah huruf dal , za’ dan dzal maka harus diganti dengan dal dikarenakan beratnya berkumpulnya ta’ dengan huruf tiga tersebut , karena ta’ sifatnya mahmusah. Sedangkan tiga huruf tersebut sifatnya majhurah , maka untuk meringankannya dicarikan huruf yang makhrojnya sama dengan ta’ , yaitu huruf dal , karena makhrajnya sama-sama dari ujungnya lidah dan pangkal gigi depan yang atas dan memiliki sifat yang sama dengan huruf sebelumnya ta’ yaitu memiliki sifat jahr.
2. Ta’ yang ganti dengan dal , ini hukumnya boleh diganti dengan huruf yang sejenis dengan huruf sebelumnya, maka di dalam pengucapannya ada dua wajah . Seperti : اذدكر boleh diucapkan اذكر , ازدان boleh diucapkan ازان .
3. Huruf alif tidak termasuk diganti dengan ta’ , karena alif tidak ada yang menjadi fa’ fi’il , ain fi’il atau lam fi’il.
4. Pergantian huruf ta’ pada wazan افتعال ini berlaku dalam lafadz-lafadz yang ditashrif dari masdarnya , mulai dari fi’il madli sampai isim alat.

Huruf yang terdapat dalam lafadz اويسا هل تنم itu disebut huruf zaid ( huruf tambahan ) apabila berada pada kalimat yang terdiri dari 3 huruf atau 4 , dengan catatan apabila kalimat tersebut sudah mempunyai arti tanpa adanya huruf sepuluh tersebut .

Fi’il ruba’i ( baik ruba’i mutlaq atau tsulasi mazid ruba’i ) itu yang banyak adalah muta’addi , kecuali yang ikut wazan فعلل maka yang banyak adalah lazim contoh : دربج محمد (Muhammad mendapat petunjuk) .

Pembahasan:
1. Huruf asal adalah huruf yang selalu ada ( dalam dlahir atau perkiraan ) pada semua tashrif kalimat . Seperti nun pada lafadz نصر .
2. Adapun huruf asal yang dibuang karena proses pengi’lalan itu tetap dihukumi wujud dalam perkiraan , seperti wawu dalam lafadz وعد yang dibuang pada mudlari’nya .
3. Huruf zaid ( huruf tambahan ) adalah huruf yang tidak tetap atau dibuangpada beberapa tashrif kalimat , seperti ta’ pada lafadz اختذي .
4. Begitu pula dengan huruf ziyadah yang selalu tetap , itu dihukumi terbuang dalam taqdirnya , seperti wawu dalam كوكب dan nun dalam قرنفل .
5. Tujuan penambahan huruf itu ada tujuh perkara :
a) Menunjukkan makna , sepe huruf mudlara’ah ( untuk menunjukkan mutakallim , ghaib atau mukhatabah ).
b) Ilhaq yaitu menjadikan kalimat dengan menambahkan huruf agar sama dengan kalimat lain dalam bilangan huruf , jenis harokat dan sukunnya serta sama dalamsemua tashrifannya . Seperti wawu pada كوثر , alif pada ارطى .
c) Memanjangkan seperti alif pada ريالة , ya’ pada صحيفة arau wawu pada حلوبة .
d) Mengganti yang dibuang . Seperti ta’ dari اقامة ( gantian dari ‘ain fi’il yang dibuang )
e) Memperbanyak seperti mim dari زرقم ( banyak rizki ).
f) Menjelaskan seperti ba’ sakat pada lafadz ماليه atau يا زيداه ( yang ditambahkan untuk memperjelas alif dan harakat ).
g) Memungkinkan ibtida’ ( memulai pembicaraan ) dengan huruf mati atau waqaf pada suatu huruf . Seperti menambahkan hamzah washal diawal kalam atau penambahankan ba’ sakat pada عه , قه karena waqaf

Semua fi’il khumasi ( baik tsulasi mazid khumasi atau ruba’i mazid khumasi ) itu berlaku lazim contoh : انكسر زيد – تدخرج الحجر , kecuali wazan افتعل – تفعل – تفاعل , maka ada yang berlaku muta’addi , contoh : 1. اختبر المدير التلميذ dan ada yang berlaku lazim contoh : تشجع زيد . Begitu pula berlaku lazim yaitu fi’il sudasi ( tsulasi mazid sudasi atau ruba’i mazid sudasi ) contoh : احمار الوجه kecuali yang ikut wazan استفعل , maka ada yang berlaku muta’addi contoh : استغفرت الله . Lafadz اسندى dan اغرندى itu berlaku muta’addi maf’ul satu contoh اسرندى المسلم عدوه واغرنداه dan sebuah syi’ir : قد جعل النعاس يغرنديني # ادفعه عني ويسرنديني
اسرندى bermakna غلب ( mengalahkan ) sedang اغرندى bermakna قهر ( memaksa )

Hamzah yang ada pada fi’il tsulasi mazid ruba’i yang ikut wazan افعل itu mempunyai tujuh arti yaitu :
a) تعدية ( memuta’addikan fi’il ) contoh : اكرمت زيدا
b) صيرورة ( menjadikan ) , contoh : اظلم الليل
c) كثرة ( memperbanyak ) , contoh : البن الرجل اى كثر عنده اللبن .
d) حينونة ( datangnya suatu masa ) , contoh : احصد الزرع اى جاء وقت حصاده
e) ازالة ( menghilangkan ) , contoh : اشفى المريض
f) وجدان ( menemui maf’ul bih dalam suatu sifat ) , contoh : ابخلت زيدا اى وجدته بخيلا
g) تعريض ( menawarkan ) contoh : اباع الثوب

Pembahasan:
1. Fi’il tsulasi mujarrad dipindah dan diikutkan pada wazan افعل dengan menambahkan hamzah qatha’ dipermulaan itu mempunyai beberapa faedah diantaranya :
a) للتعدية ( memuta’addikan fi’il lazim ) , contoh : اكرمت زيدا (saya memuliakan zaid)
b) للصيرورة (shairurah : berubahnya fa’il menjadi asal fi’il) contoh : اقفر البلد (negara itu lengang/kosong) , asal fi’ilnya قفر (lengang/kosong).
c) لدخول في الشيء (masuknya fa’il pada asal fi’il (suatu keadaan)), contoh : امسى المسافر (musafir masuk pada waktu sore). Asal fi’il امسى adalah lafadz مساء .
d) لقصد المكان (fa’il menuju suatu tempat (asal fi’il)) contoh : احجز زيد (zaid menuju hijaz) , اعرق عمرو (amr menuju irak) , اطبن خالد (khalid menuju ke tuban) asal fi’il اعرق , احجز , dan اطبن adalah lafadz عراق , حجاز dan طبان .
e) لوجود ما اشتق منه الفعل فى الفعل (menunjukkan arti adanya asal fi’il di dalam fa’il) contoh اثمر الطلع (pohon pisang telah berbuah) dan اورق الشجر (pohon telah berdaun). Asal fi’il dari اثمر dan اورق adalah lafadz ثمر dan ورق .
f) للمبالغة (mubalaghah / menyangatkan asal fi’il atau menambahkan makna asal fi’il) contoh اشغلت عمرا (saya sangat menyibukkan amr)
g) لوجود الشيء في صفة (fa’il menemukan maf’ul bih memiliki suatu sifat) , contoh اعظمته (saya menemukan sifat agung padanya) dan احمدته (saya menemukan sifat terpujinya padanya).
h) تعريض (fa’il menawarkan maf’ul bih untuk asal fi’il) contoh : اباع الثوب (dia menawarkan baju untuk dijual) asal fi’ilnya berupa lafadz بيع.
i) للسلب (hilangnya asal fi’il dari fa’il) contoh : اشف المريض (si sakit telah hilang kesehatannya), asal fi’ilnya berupa lafadz شفاء .
j) للحيننة (datangnya waktu untuk melakukan asal fi’il) contoh: احصد الزرع (telah datang waktu panen padi) , asal fi’ilnya ialah حصاد .

Sin dalam fi’il yang ikut wazan استفعل itu mempunyai enam arti sebagaimana berikut:
1. طلب (meminta) , اسستغفرت الله اى طلبت منه المغفرة : contoh
2. صيرورة (berubah) استحجر الطين اى صار حجرا : contoh
3. وجدان (mendapati) استعظمت الامراى صار حجرا : contoh
4. اعتقاد (menyakinkan)استعلمت زيدا اى اعتقدت انه عالم : contoh
5. تسليم (menyerah) استرجع القوم عند المصيبه : contoh
6. سؤال (bertanya) استخبر الكريم اى سال الخبر الكريم : contoh

Pembahasan:
1. Fi’il tsulasi yang diikutkan pada wazan استفعل dengan menambahkan hamzah washal , huruf sin dan ta’ itu mempunyai beberapa faidah:
a) لطلب الفعل (fi’il meminta /mencari asal fi’il dari maf’ul) , contoh : استغفر الله (saya memohon ampunan Allah).
b) للجدان على الصفة (fa’il menemukan maf’ul dalam sifat (asal fi’il)) contoh: استعظمت الامر (saya menganggap penting perkara itu) dan استحسنته (saya menganggapnya baik) asal fi’ilnya عظيم dan حسن .
c) للتحول (berubahnya fa’il pada asal fi’il) contoh: استحجر الطين (tanah liat itu membantu) asal fi’ilnya حجر.
d) للتكلف (fa’il berusaha unuk menghasilkan asal fi’il) , contoh: استجرا (dia memberanikan diri) asal fi’ilnya adalah جرا .
e) لمعنى فعل المجرد (maknanya sama dengan fi’il tsulasi mujarrad) contoh: استقر (menetap) bermakna قر .
f) للمطاوعة (muthawa’ah) contoh: اراكه غاستراح (dia mengistirahat-kannya , iapun beristirahat).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker