Bahasa

Terjemah Kitab Qiroatur Rosyidah Juz 1

ABDULLAH DAN BURUNG(1)

Suatu hari Abdullah keluar rumahnya untuk berjalan-jalan di kebun rumahnya, maka ia sarang diatas kepala pohon yang tinggi. Di dalam sangkar tersebut terdapat-burung kecil berkicau.

Ketika (Abdullah) mendengar suaranya, ia hendak mengambil salah satu dari burung tersebut. Ia memanjat pohon tersebut hingga sampai ke sangkar dan mengulurkan tangannya puncaknya. Burung-burung tersebut berteriak (berkicau) metakutan dan kaget, maka ia merasa kasihan dengan burung-burung tersebut. Akhirnya ia mengambil satu dari burung-burung tersebut dan turun dari pohon.

Ia mendengar suara burung-burung yang lain, seakan-akan menangis atas perpisahannya dengan mereka. Tetapi ia tidak peduli dan tetap mengambilnya, menciumnya dan bermain dengan burung tersebut. Seolah ia tidak mengetahui dan merasakanapa yang dirasakan betapa sakit dan sedihnya berpisah dengan keluarganya.

Akan tetapi ia lari cepat dan di tangannya ada burung tersebut, berteriak, berontak(berusaha lepas), dan mengpak-ngepak dengan kedua sayapnya, tidak ada penolong dan tidak ada yang menyelamatkannya.

ABDULLAH DAN BURUNG(2)

Abdullah menemui ayahnya dan memperlihatkan burung kepadanya, ayahnya mengambilnya dan di simpan di tangannya, dan berkata:

“burung ini bagus Abdullah, dari mana kamu dapat”

Anak tersebut menjawab,

“saya dapat dari sangkar di kebun dengan keluarganya, maka aku naik ke pohon dan mengambilnya”

Bapaknya berkata:

“bagaimana keadaanmu jika kamu di culik seorang laki-laki dari rumah, dan di bawa kemana saja sesuka dia.”

Anak laki-laki tersebut menjawab,

“ saya akan sangat sedih dan menderita karena berpisah dengan keluarga saya, saya tidak akan tenang hidup selama jauh dari mereka. Tetapi mengapa ayah bertanya kepadaku seperti itu?”

Bapaknya menjawab,

“dan apa yang ada di benakmu mencuri burung dari keluarganya? Apakah kau sekejam dan sedzolim itu? ”

Maka anak tersebut mengetahui bahwa dirinya berbuat salah, dan ia meminta kepada pembantunya untuk mengembalikan burung kepada keluarganya.

27.DUA EKOR KAMBING

Dua ekor kambing bertemu di jalan yang sempit, jalan tersebut tidak memungkinkan untuk melewatiny kecuali dengan menyebrang salah satu diantara keduanya. Karena ada bukit yang tinggi pada salah satu pinggirnya dan jurang yang dalam pada pinggir yang lain. Maka yang satu merendah dan tidur diatas tanah,sehingga lewatlah kambing temannya diatasnya dengan meringankan badan dan hati-hati, kemudian ia bangun dan berjalan pada jalannya dengan selamat.

Ada lagi dua ekor kambing yang lain di pinggir sungai, dan penghubung antara satu ujung dengan ujung lainnya seakan-akan jembatan yang sempit. Maka berjalanlah semua kambing dari setiap ujung pinggir sungai arah yang berbeda ke tengah jembatan kayu, dan disana mereka tidak mendapatkan jalan untuk berjalan keduanya bersama-sama. Dan tidak rela seandainya salah satunya kembali untuk member jalan kepada saudaranya.

Maka terjadilah peran yang sangat sengit, jatuhlah keduanya kedasar sungai dan matilah keduanya sebagai balasan atas kekerasan dirinya.

Dan seandainya keduanya bersifat lemah lembut kepada yang lain seperti yang di lakukan kedua kambing pertama tadi, tidaklah akan terjadi pada keduanya bahaya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker