Kitab Tauhid

Terjemah Kitab Qotrul Ghoits

BAB VI MASALAH IMAN KEPADA KIAMAT

Apabila ditanyakan kepada anda: “Bagaimana kamu beriman kepada Hari Akhir?”

Muka Jawabnya: “Sesungguhnya Allah akan mematikan semua makhluk, kecuali makhluk yang di dalam surga dan neraka, sesudah itu mereka dihidupkan kembali oleh Allah Ta’ala dikumpulkan di padang mahsyar untuk dihisab, lalu dihukumi secara adil. Makhluk yang ada (selain malaikat), Jin dan manusia akan mati semua, mereka yang fasik masuk neraka sampai habis kadar dosanya. Adapun orang-orang mukmin masuk Surga untuk selama-lamanya, sedangkan orang-orang kafir di neraka selama-lamanya. Surga dan neraka serta penghuninya itu tidaklah binasa, barang siapa yang ragu terhadap peristiwa-peristiwa tersebut sekalipun hanya sebagiannya maka ia dihukumi kafir.”

Penjelasan:

Disebut hari akhir karena hari itu merupakan hari terakhir kehidupan di dunia. Juga disebut hari kiamat, karena para manusia sama bangun dari kuburnya menunggu menghadap Tuhan semesta alam.

Perlu diketahui bahwa Allah Ta’ala akan menghidupakan makhluk yang bernyawa. Allah berfirman:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu, ” (QS. Ali Imran: 185)

Kematian pasti ada batas waktunya yang telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman dahulu kala, sebagai batas kehidupan manusia, Maka tidak ada manusia mati tanpa ajal (batas kematian), baik dia itu dibunuh orang atau tidak. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang tertentu waktunya.” (QS. Ali Imran: 145) ,

Maksudnya setiap yang berjiwa itu akan mati dengan ketetapan dan kehendak Allah, atau dengan izin-Nya kepada Malaikat juru pati untuk mencabut nyawanya. Jadi Allah telah menetapkan waktu tertentu atas kematian, tidak dapat dijauhkan atau ditunda.

Sewaktu sangkakala atau terompet Israfir ditiup pada hari kiamat, maka matilah seluruh manusia. Kecuali yang berada di surga dan neraka. Kemudian Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dengan mengembalikan nyawa ke seluruh tubuh.

Orang yang telah mati dan dikuburkan, ruhnya kemudian dikembalikan pada tubuh untuk menghadapi pertanyaan dua malaikat Munkar dan Nakir. Setelah ditanya lalu ruh keluar dan Allah menyiksa orang yang dikehendaki-Nya. Allah menciptakan sifat kehidupan pada mayat lantaran bertemunya ruh dengan tubuhnya bagaikan bertemunya sinar matahari pada bumi, agar mayat merasakan sakitnya siksaan. Kemudian ruh merasa sakit bersama tubuhnya sekalipun ruh berada di luar tubuh. Siksaan orang kafir terus menerus sampai hari kiamat, sedangkan siksa orang mukmin dihentikan setiap hari Jum’at dan bulan Ramadhan berkat kemuliaan Nabi Muhammad Saw Jika seorang mukmin itu mati pada hari Jum’at atau malamnya maka siksanya hanya sekali, demikian juga menghimpitnya kubur, kemudian terputus dan tidak kembali tersiksa lagi hingga hari kiamat.

Allah menghidupkan seluruh makhluk-Nya setelah mengalami kerusakan dengan mengembalikan ruh pada tubuhnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Demikian Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya, agar kamu mengerti.” (QS. Al Baqarah: 73)

Cara Allah menghidupkan kembali para manusia pada hari kiamat ditandai dengan tiupan sangkakala Israfil sesudah mereka dimatikan semua. Jarak waktu antara kedua tiupan selama 40 tahun lamanya. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az Zumar: 68)

Setelah Allah menghidupkan seluruh jin dan manusia, malaikat dan syetan, kemudian dihalau tanpa alas kaki, tanpa pakaian dan dalam keadaan kulup ke bumi mahsyar, yaitu bumi putih yang datar. Allah mengumpulkan seluruh makhluk itu untuk dihadapkan, diperiksa amal perbuatannya dan diputusi pada pengadilan Allah. Disebutkan dalam Firman-Nya:

“(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kaum pada hari pengumpulan untuk (dihisab), itulah hari (waktu itu) ditumpahkan kesalahan-kesalahn.” (QS. At Taghabun: 9)

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji #ipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya.-Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan.” (QS. Al Anbiya’: 47)

Sebagian mereka ada yang dihisab dengan hisab yang berat di hadapan orang banyak, segala amalnya terbongkar untuk disaksikan. Itulah orang yang diberikan kitab perbal amalnya pada hari kiamat yang telah ditulis oleh malaikat Hafadhah selama hidupnya dari belakang punggungnya. Mereka adalah orang kafir dan munafik. Lalu tangan kanannya dibelenggu pada lehernya dan tangan kirinya ditempelkan pada belakang punggungnya untuk menerima kitab perbal amalnya,

Diantara mereka ada orang yang tidak dihisab melalui malaikat atau yang lain lantaran menutupi kejelekannya. Tetapi dihisab langsung oleh Allah dan tidak dilihat oleh siapapun. Allah memperlihatkan amalnya seraya mengatakan: “Inilah amalmu yang kamu perbuat sewaktu di dunia Aku tutupi dan Aku ampuni !” Dialah yang pada hari itu diberikan kitab perbal amalnya dari mukanya, dia adalah orang mukmin yang taat.

Buku-buku catatan atau perbal amal sesudah manusia mati ditempatkan di gudang yang berada di bawah “Arasy”. Apabila para manusia sudah di tempat menunggu Pengadilan Allah, maka Allah menghembuskan angin yang keras dan menerbangkan kitab (bukubuku) perbuatan amal. Lalu setiap buku perbal amal itu menempel pada leher-leher orang yang memliki amal, dan tidak akan menempel pada leher orang lain. Kemudian diambil oleh malaikat dari masing-masing leher diberikan pada pemiliknya dan diterima dengan tangan mereka.

Orang yang pertama kali menerima buku perbal amal dengan tangan kanannya adalah Umar bin Khaththab ra. Bukunya bersinar bagaikan sinar matahari. Sedangkan Abu Bakar As-Shiddiq ra. menjadi pemimpin 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab. Mereka tidak mengambil buku perbal amalnya. Penerima kitab perbal amal setelah Umar bin Khatab adalah Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad Al Makhzumi. Adapun orang pertama kali menerima buku perbal amalnya dengan tangan kiri adalah saudara Abdullah yaitu Al Aswad bin Abdul Asad. Jika para manusia telah menerima kitab perbal amalnya, mereka dapat melihat huruf-huruf catatannya menjadi terang atau gelap sesuai dengan amal kebaikan dan kejahatan.

Tulisan yang pertama kalli terdapat pada kitab-kitab perbal amal adalah Firman Allah:

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS. Al Isra: 14)

Jika seorang hamba membaca kitab perbal amalnya, maka mukanya menjadi putih berseri. Demikian jika seorang mukmin. Tetapi jika dia seorang kafir, maka mukanya menjadi hitam muram. Begitulah sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

“Pada hari yang diwaktu itu ada yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram. Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan):

“Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang menjadi putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (Surga), mereka kekal didalamnya.” (WS. Ali Imran 106-107).

Disebutkan dalam Hadits,

“Sesungguhnya makhluk yang pertama dihisab oleh Allah Ta’ala adalah Lauh Mahfudh. Andaikata Allah mengenakan akal, pendapat dan ucapan pada Lauh Mahfudh lalu dipanggil maka seketika itu gemetar anggotanya seraya Allah berkata: “Apakah kamu telah mendatangkan apa yang tertulis padamu kepada Israfil?” Lauh Mahfudh menjawab: “Benar, sudah ”. Lalu Israfil dipanggil: “Wahai Israfil !” Israfil gemetar karena takut kepada Allah.

Allah : “Apa yang kamu lakukan atas pemberitaan Lauh?”

Israfil : “Saya telah menyampaikan kepada Jibril”.

Jibril lalu dipanggil seraya gemetar anggota tubuhnya.

Allah : “Wahai Jibril, apa yang kamu perbuat sehubungan dengan pemberitaan Israfil padamu?”

Jibril : “Sudah saya sampaikan kepada para utusan Engkau”. Kemudian para rasul dipanggil.

Allah : “Wahaipara rasul apa yang kalian perbuat sehubungan dengan pemberitaan Jibril pada kalian”.

Rasul : “Sudah kami sampaikan kepada umat manusia”.

Kemudian para manusia ditanya Allah tentang: umurnya dihabiskan untuk apa? Masa mudanya dirusakkan untuk apa? Hartanya diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa? Dan ilmunya untuk apa? Demikian itu sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (QS. Al A’raf: 6-7)

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang mereka kerjakan dahulu.” (QS. Al Hijr: 91-92)

Kemudian Allah memasang timbangan amal. Semua mata manusia terbelalak melihat buku perbal amalnya, apakah jatuh pada tangan kanan atau tangan kirinya. Kemudian memandang pada daun timbangan amal, apa condong pada amal kejelekan atau kebaikan.

Selanjutnya Allah akan menghakimi para manusia dengan seadil-adilnya. Amal yang pertama kali diperiksa ditempat menunggu pengadilan adalah shalatnya, setelah itu berbagai macam tuduhan lainnya seperti membunuh jiwa tanpa hak membunuh.

Mereka lalu dihalau menuju As-Shirath, yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka menuju surga. Jembatan itu lebih lembut dari pada rambut dan lebih tajam daripada pisau cukur. Orang yang selamat melintasi jembatan itu seperti sekedip mata, ada yang secepat kilat, Jalu ada yang seperti burung terbang, ada yang seperti kuda, kemudian ada yang melintas dengan berlari, berjalan kaki, kemudian ada yang merangkak dan ngisot. Mereka inilah yang merintih seraya berteriak bagaikan merasakan kehancuran, Diantara mereka ada orang yang menulis pada permulaan menginjakkan kaki, yaitu orang yang terakhir keluar dari neraka. Ada juga yang ditulis di akhir menginjakkan kakinya, yaitu orang yang paling dahulu keluar dari neraka. Terpautnya dalam waktu melintasi As-Shirath tergantung dengan terpautnya amal-amal saleh dan dalam berpaling dari segala larangan Allah ketika tergores di dalam hati.

Orang yang pertama kali datang di neraka adalah apabila pembunuh saudaranya sendiri Habil tanpa hak membunuh. Karena Qabil sebagai pencetus tindak kejahatan pembunuhan, maka dialah manusia pertama yang akan masuk neraka dari golongan Jin. Kemudian seluruh makhluk selain malaikat, jin dan manusia semuanya akan berantakan mengalami kematian. Tapi ada seorang malaikat tidak akan mati sebelum peniupan Israfil pertama. Akan tetapi dengan peniupan sangkakala yang dikehendaki Allah, yaitu malaikat pemikul Arasy ada empat malaikat (Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail). Mereka mati setelah diperintahkan oleh Allah, dihidupkan kembali sebelum peniupan yang kedua. Yang terakhir matinya adalah malaikat juru pati, sebagaimana disebutkan As Syarqawi.

Orang fasik yaitu yang keluar dari perintah Allah dengan melakukan dosa-dosa besar dan kecil, dimana ketaatannya tidak dapat mengalahkan maksiatnya, mereka tidak kekal di neraka setelah pemeriksaan amalnya dan setelah selesai menjalani hukuman siksa setimpal dengan dosanya. Karena dosanya tidak melepaskan imannya, kecuali kalau ia beri’tikad menghalalkan maksiat dan perbuatan dosa besar dan kecil. Sebab iman itu menurut Ulama Madzhab Al Asy’ari dan Ahli Tahqiq dari golongan pengikut madzhab Al Maturidi hanya membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw Adapun pengakuan dari orang yang dapat berikrar, hanyalah sebagai syarat melakukan hukum-hukum keduniaan, yang diantaranya adalah wajibnya beri’tikad bahwa orang fasik itu tidak kekal di neraka.

Jika iman itu adalah membenarkan, maka seorang hamba tidak keluar dari sifat beriman, kecuali apabila ia melakukan sesuatu yang meniadakan iman yaitu kufur dengan mengingkari kebenaran ajaran yang dibawa oleh Nabi Saw atau membangkang ketetapan syarat iman yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat. Orang-orang mukmin yang ahli maksiat juga tidak akan kekal di neraka. Demikian pula syafa’at atau pertolongan itu tidak akan sampai kepada orang-orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman:

 “Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa ‘at dari orang-orang yang memberikan syafa ‘at.” (QS. Al Mudatsir: 48)

Para Rasul itu diizinkan Allah untuk memberikan syafa’at tanpa dibatasi. Macam-macam syafa’at yang diberikan adalah:

  1. Syafa’at untuk menyelamatkan seluruh makhluk di Mahsyar karena sangat takut dan gemetar. Inilah yang disebut Syafa’ at Al Udhma (pertolongan atau pembelaan terbesar). Karena syafa’at ini merata pada seluruh makhluk, disebut juga kedudukan yang terpuji “Maqam Mahmud”. Juga karena syafa’at ini Nabi Muhammad Saw dipuji orang-orang terdahulu dan terkemudian.
  1. Syafa’at Nabi untuk memasukkan golongan orang mukmin ke dalam surga tanpa hisab. Syafa’at ini khusus bagi Nabi Muhammad Saw
  1. Syafa’at pada urusan orang yang mestinya masuk neraka kemudian tidak jadi masuk neraka.
  1. Syafa’at untuk meningkat derajat di surga.
  1. Syafa’at bagi orang-orang saleh agar Allah mengampuni meraka karena kelalaian mereka dalam ketaatan.
  1. Syafa’at bagi orang yang meng-Esakan Allah namun mereka masuk neraka lalu dikeluarkan. Syafa’at ini tidak khusus bagi Nabi Saw tapi juga para nabi yang lain, para malaikat dan orang-orang mukmin.
  1. Syafa’at untuk memperingan siksa orang yang masuk neraka bagi orang yang kekal di neraka pada waktu tertentu, seperti Abu Thalib paman Nabi Muhammad Saw
  1. Syafa’at dalam urusan anak-anak bayi orang musyrik agar mereka masuk surga.
  1. Syafa’at Nabi Muhammad Saw kepada orang ahli di Madinah. Orang yang sabar menghadapi penyakit di Madinah, orang yang menziarahi Nabi Muhammad Saw sesudah beliau wafat, dan orang yang adzan serta mendo’akan Nabi Muhammad & dengan wasilah, orang yang memperbanyak membaca shalawat nabi di malam dan siang hari Jum’at, orang yang menghapal 40 hadits dan mengamalkannya dalam urusan agama, orang yang berpuasa bulan Sya’ban karena mencintai Nabi saw dan orang yang memuji keluarga ahli rumah Nabi Saw

Adapun orang-orang mukmin yang mati menetapi agama Islam, sekalipun, mereka pernah kafir sebelumnya, maka akan kekal di Surga. Sebab tidak mungkin orang yang sudah masuk surga kemudian dimasukkan Neraka, sebab orang yang sudah masuk surga itu tidak akan keluar dari surga. Allah Ta’ala berfirman:

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.” (QS. Al Hijr: 48)

Masuk surga itu ada kalanya tanpa masuk neraka sama sekali, adakalanya setelah masuk neraka dan disiksa sesuai dosa yang diperbuat. Orang-orang yang mati dalam kafir baik dari golongan jin atau manusia, sekalipun selama hidupnya tetap beriman tetap kekal di neraka. Mereka terus-menerus disiksa di neraka, adakalanya digigit ular dan kala dan ada juga yang dipukuli atau yang lainnya.

Ringkasnya, manusia itu ada dua macam: orang mukmin dan orang kafir. Orang kafir akan kekal di neraka. Orang mukmin ada dua: mukmin yang taat dan mukmin yang maksiat. Mukmin yang taat akan masuk surga. Mukmin yang ahli maksiat ada dua yaitu: ada yang bertaubat dan ada yang tidak bertaubat. Yang bertaubat ada di surga. Yang tidak bertaubat terserah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, boleh jadi Allah mengampuni dan memasukkan mukmin ahli maksiat yang tidak bertaubat itu di surga dengan rahmat karunia-Nya, lantaran berkat iman dan ketaatannya, dan adakalanya dengan syafa’at orang yang saleh-saleh. Jika Allah menghendaki, Allah berhak menyiksanya menurut ukuran dosanya, dosa kecil atau dosa besar, lalu pada akhirnya akan masuk surga, jadi ia tidak kekal di neraka.

Surga itu tidak akan mengalami kerusakan. Surga ada tujuh tingkatan, yaitu: Firdaus, “Adn, Khuldi, Na’im, Ma’wa, Darus Salam, dan Darul Jalal. Semuanya bertemu pada kedudukan Nabi Muhammad 3 pemilik wasilah, agar Ahli Surga itu merasa senang dan nikmat melihat Nabi &, karena beliau akan menampakkan dirinya kepada seluruh penduduk surga. Jadi wasilah itu menerangi ahl surga bagaikan matahari menerangi penduduk bumi.

Neraka juga tidak rusak dan ada tujuh tingkatan:

  1. Neraka Jahannam, menjadi tempat orang-orang mukmin ahli maksiat.
  2. Neraka Ladha, menjadi tempat orang-orang Yahudi.
  3. Neraka Huthamah, menjadi tempat k orang-orang Nashrani.
  4. Neraka Sa’ir, menjadi tempat orang-orang Shabi’1 kelompok Yahudi.
  5. Neraka saqar menjadi tempat orang-orang Majusi.
  6. Neraka Jahim, menjadi tempat para penyembah patung dan berhala.
  7. Neraka Hawiyah, menjadi tempat orang-orang munafik.

Ahli surga dan neraka tidak akan rusak, baik dari bidadari, anakanak muda belia pelayan surga, petugas surga, para malaikat penyiksa, kalajengking, maupun ular-ular.

Asy-Syarbini mengutip pendapat An Nasafi mengatakan: Ada tujuh hal yang tidak akan rusak atas kehendak Allah, yaitu: Arasy, Kursiy, Lauh, Qalam, Surga, Ahli surga dan Neraka, Ruh. Para Ulama berbeda pendapat tentang tafsir Firman Allah Ta’ala:

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al Qashash: 88)

Jika makna adanya sesuatu itu rusak keadaannya karena menerima kerusakan zatnya, karena apa saja selain Allah Ta’ala itu mungkin adanya dan menerima tidak adanya, maka tujuh makhluk tersebut ditangguhkan pada arti ini. Kalau arti rusaknya suatu perkara itu karena dimatikan atau hancurnya bagian-bagian, maka tujuh makhluk itu dikecualikan dari firman Allah tersebut, yakni kerusakan. Siapa yang ragu terhadap salah satu dari masalah tersebut benar-benar kafir.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker