Kitab Tasauf

Terjemah Fathur Rabbani Karya Syekh Abdul Qadir Jailani

Benarnya hati adalah dengan ketakwaan, tawakal pada Allah, men-tauhidkan-Nya dan dengan  keikhlasan  dalam setiap amal perbuatan. Mengabaikan itu semua, berarti telah merusak hati. Hati adalah bintang pada sebuah ruangan yang gelap, hati bagaikan mutiara di dalam bejana, hati bagaikan harta berharga di dalam lemari. Sangat berharga sekali. Ya Allah, sibukkanlah jasmani kami dengan ketaatan kepada-Mu. Penuhi hati kami dengan makrifat kepada-Mu, penuhilah malam kami, siang kami dan di setiap sendi kehidupan kami dengan taat kepada-Mu. Pertemukanlah kami dengan orang-orang yang shalih sebelum kami, anugerahkanlah kepada kami apa-apa yang telah engkau anugerahkan kepada mereka. Dan jadilah  Engkau  pelindung  bagi  kami,  sebagaimana  Engkau  telah  menjadi  pelindung bagi mereka semua. Amin.

Wahai manusia, bersikaplah kepada Allah sebagaimana adanya orang-orang shalih terdahulu. Sehingga kalian menemukanNya, seperti orang-orang shalih tersebut menjumpai-Nya. Jika engkau mengharapkan kebenaran dari Allah Azza wa Jalla, maka hendaklah kalian menyibukkan diri dengan berbagai ketaatan disertai dengan kesabaran. Dengan penuh keridhaan  atas ketetapan Allah baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Para wali itu bersungguh-sungguh untuk mengambil bagian dalam urusan dunianya dengan tangantangan ketakwaan. Disertai dengan ke-wara-an (kehati-hatian). Kemudian mencari bagiannya untuk urusan akhirat, dan berbuat banyakuntuknya. Dengan berbuat ketaatan pada Tuhannya. Menasihati dirinya pribadi, serta memberikan nasihat bagi orang lain.

Wahai muridku, nasihati dirimu sendiri terlebih dahulu, kemudian berilah nasihat bagi orang lain. Hati-hatilah dengan dirimu sendiri, jangan menghakimi orang lain dengan keburukan, sementara di dalam dirimu sendiri masih tersisa keburukan yang harus dibenahi. Celaklah dirimu.

Engkau mengetahui bagaimana membebaskan orang lain, tetapi engkau tidak tahu bagaimana menuntunnya (ke jalan yang benar). Sesungguhnya manusia menginginkan Allah karena ma’rifatnya, bukan karena kebodohannya. Sehingga mencintai-Nya dan berbuat untuk-Nya, tidak untuk selain Dia. Takut hanya kepadaNya tidak kepada yang lain-Nya.

Dan ini terjadi di dalam hati, bukan hanya pada lisan saja. Ini semua seharusnya terjadi ketika berada di dalam kesendirian, tidak semata-mata hanya karena banyak orang. Tauhid yang hanya ada pada lisan, sedangkan hatinya menyimpan kemusyrikan, dia adalah orang yang munafik. Sungguh celaka, jika lisanmu bertakwa, sementara hatimu durhaka, lisanmu bersyukur sedangkan hatimu ingkar dan menentang-Nya.Allah Swt. berfirman di dalam hadits gudsi, “Wahai anak Adam, Kebaikan dari-Ku terus tercurah kepadamu, sedangkan keburukan darimu terus datang pada-Ku.”

Sungguh celaka. Engkau mengaku hamba-Nya, sedangkan engkau taat kepada selain Dia. Jika benar engkau hamba-Nya, maka hendaklah engkau berbakti dan taat pada-Nya. Mukmin yang benar-benar yakin, tidak akan pernah menuruti hawa nafsunya, tidak akan taat pada bujukan setan, bahkan tidak akan peduli dengan urusan keduniaan, dia akan menganggapnya dunia itu lebih rendah. Dia akan mencari hal-hal yang berkaitan dengan akhirat sampai dia bisa sampai kepada Allah Azza wa Jalla. Mengikhlaskan seluruh ibadahnya dalam setiap waktu, karena meyakini firman Allah Swt., “Padahal mereka hanya diperintah hanya menyembah Allah, dengan ikhlas semata-mata karena menjalankan agama.” (Q.S. al-Bayyinah: 5)

Tinggalkanlah segala bentuk kemusyrikan. Esa-kanlah Allah Azza wa Jalla. Dialah pencipta seluruh makhluk yang ada. Dan semua yang ada berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Wahai pencari Tuhan selain Dia, sungguh telah hilang akal sehatmu. Apakah ada sesuatu selain Dia di jagat raya milik Allah ini. Allah Swt.. berfirman, “Dan tidak ada sesuatupun, melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya.” (Q.S. al-Hijr : 21)

Wahai pemuda, berjalanlah di dalam ketetapan takdir-Nya dengan kesabaran sebagai hamba, menantikan kelapangan. Jika itu engkau lakukan maka keutamaan serta anugerah-Nya akan tercurah  pada  takdirmu  walau  pun engkau  tidak  meminta  dan  memimpikannya.  Wahai manusia, berdirilah pada ketetapan takdir itu dan terimalah ketetapan itu dengan penuh keridhaan. Wahai manusia, marilah ber-nadzar (untuk berbakti) kepada Allah, rela dengan

takdir dan kehendak-Nya. Kita tundukkan hati dan kepala kita. Ikhlas atas gadha dan gadar Allah Swt. diiringi kesabaran dalam menjalaninya. Karena Rasulullah telah memuliakan orang seperti itu. Jika kita melakukan hal itu maka kita akan menjadi sahabat bagi takdir itu. Allah Swt. berfirman, “Di sana, pertolongan itu hanya dari Allah Yang Maha Benar.” (Q.S. al-Kahfi:

44)

Engkau akan disediakan “minuman” dari telaga ilmu-Nya. Disiapkan “makanan” dari hidangan keutamaan-Nya. Dan akan diterima dengan penuh keramahan serta mendapat curahan rahmat-Nya. Hal ini diberikan kepada sedikit orang dari beriburibu orang dan sebagaian saja dari berbagai kabilah dan suku. Wahai muridku, engkau harus bertakwa dan menjalankan seluruh syariat-Nya.

Engkau juga harus menentang keinginan hawa nafsu yang dikendalikan setan. Serta janganlah membiasakan hal-hal yang buruk. Mukmin yang senantiasa berjihad adalah mereka yang tidak pernah melepaskan topi bajanya, tidak menyarungkan pedangnya, dan tidak pernah menanggalkan pelana kudanya. Tidur dengan tidur yang sedikit, sehingga dapat mengalahkan musuh.

Sesungguhnya Allah mentakdirkan mereka dapat berbicara (untuk menyampaikan kebenaran).

Dan Allah memberikan kemampuan untuk menggerakan lidahnya, sebagaimana Allah memberi kemampuan kepada anggota badan untuk berbicara di hari kiamat nanti. Allah Swt. yang memberikan kemampuan untuk berbicara, mempersiapkan perangkatnya sehingga mereka dapat berbicara.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker