Kitab Tasauf

Terjemah Fathur Rabbani Karya Syekh Abdul Qadir Jailani

Jika Allah berkehendak sesuatu atas mereka, maka Dia akan menyiapkan segala perangkatnya. Allah menghendaki agar manusia berjalan dalam aturan di dalam memenuhi kebutuhannya, maka Allah pun mengirim Rasul dan Nabi yang berbicara menyampaikan aturan-Nya.

Saat Allah Swt. memanggilnya kembali, maka para ulama yang mengamalkan ilmunya menjadi penerusnya. Mereka berbicara kebenaran sebagai pengganti para Rasul dan Nabi. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Ulama adalah pewaris para Nabi.” (H.R. Tirmidzi)

Wahai manusia, bersyukurlah kepada Allah Swt. atas nikmatNya. Dan renungkanlah bahwa itu adalah dari-Nya. Allah Swt. berfirman, “Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah.“ (Q.S.an-Nahl: 53)

Wahai orang yang telah menerima nikmat dari Allah, di manakah kesyukuranmu. Wahai orang yang menganggap bahwa nikmat itu datang dari selain Allah, engkau mengira bahwa itu

bukan dari-Nya,kadang  kamu  meremehkannya,tetapikamumenantikannya,  bahkan terkadang kamu mempergunakannya untuk kemaksiatan. Wahai muridku, engkau patut berhati-hati (bersikap wara) ketika berkhalwat, agar dapat mengeluarkanmu dari kemaksiatan dan kebinasaan. Dan engkau membutuhkan muragabah (pendeketan diri) pada- Nya, sehingga mengingatkanmu bahwa pandangan Allah Swt. senantiasa mengawasimu. Sungguh engkau membutuhkan sikap seperti ini di dalam setiap khalwatmu.Engkau harus memerangi hawa nafsu dan (godaan) setan.

Rusaknya kemuliaan manusia adalah karena kemaksiatan, hancurnya jihad adalah karena syahwat, binasanya al-Abdal adalah karena kacaunya pikiran saat menyendiri, dan tumbangnya para Shodigin adalah ketika hatinya lalai dari mengingat Allah dan lupa menjaga hati mereka. Sebab mereka tertidur di hadapan pintu sang Maha Raja.

Tegakkanlah dakwah dengan menyeru manusia agar marifat pada Allah Azza wajalla. Tidak berhenti menyeru setiap hati manusia, seraya berseru, “Wahai hati manusia, wahai setiap ruh yang ada, wahai seluruh jin dan manusia, wahai siapa saja yang mengharapkan keridhoan Sang Maha Raja.

Bersegeralah menuju pintu-Nya. Berjalanlah dengan langkah kaki hatimu yang penuh ketakwaan dan tauhidullah. Berjalanlah dengan langkah marifah pada-Nya. Disertai sikap wara’ (berhati-hati) dan sikap zuhud dari kehidupan dunia dan dari segala sesuatu selain Dia.” Tujuan mereka, membenahi makhluk Allah, dan Cita-cita mereka memenuhi langit dan bumi, sampai kepada ‘arasy, dan seluruh jagat raya.

Wahai pemuda, tanggalkanlah syahwat dan hawa nafsu. Jadilah seperti bumi yang berada di bawah kaki manusia. Jadilah seperti tanah yang berada di bawah kekuasaan tangan mereka. Allah Azza wa Jalla mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Allah mengeluarkan Nabi Ibrahim dari kedua orang tuanya yang mati (keimanan- nya). Karena iman adalah kehidupan, dan kekafiran adalah kematian. Ahli tauhid hidup, sedangkan orang musyrik itu mati. Tidak berlebihan jika Allah Swt. berfirman dalam hadits gudsi, “Ciptaan-Ku yang pertama kali binasa adalah Iblis.” Maksudnya adalah Iblis telah berbuat maksiat pada-Ku, dengan kemaksiatan itu dia telah membinasakan dirinya.

Sekarang adalah akhir zaman. Gejala nifak, kebohongan, dan dusta telah tersebar luas. Maka janganlah engkau dekat dengan orang-orang munafik lagi pendusta dan menjadi “dajjal”

dalam hidup. Celakalah nafsu yang membawa pada kemunafikan, dusta, kekafiran, durhaka, dan kemusyrikan. Tentanglah dia dan jangan mengikutinya, ikatlah dan jangan melepaskannya. Tahan dia dan berikan apa-apa yang wajar diterimanya.Tundukkan nafsu itu dengan mujahadah (penuh perjuangan). Hawa nafsu itu harus dikendalikan jangan sampai berbalik mengendalikan dirimu.

Oleh karenanya jangan sampai memperturutkan hasrat. Hasrat itu tak ubahnya seperti anak kecil yang belum berakal sempurna. Bagaimana engkau akan belajar kepada anak yang tidak memiliki kesempurnaan akal. Sedangkan setan adalah musuhmu. Musuh nenek moyang manusia, yaitu Adam dan Hawa.

Maka bagaimana engkau akan tenang dengan berada bersamanya, sementara itu diantara engkau dan setan terdapat permusuhan abadi. Sungguh engkau tidak bisa aman bersamanya, karena dia yang telah “membunuh” (keimanan) nenek moyangmu. Bukan hal yang mustahil, suatu saat dia akan menyesatkanmu sebagaimana mereka menyesatkan Adam dan Hawa dahulu.

Jadikanlah ketakwaan sebagai senjatamu untuk melawannya. Dan jadikan tauhidullah, murogobatullah, wara’ (berhati-hati) dalam kesendirian, kejujuran dan permohonan tolong terhadap Allah sebagai tentara bagimu. Senjata dan tentaramu ini akan menghancurkan setan, membinasakan, dan mengalahkan tentaranya, karena kebenaran bersamamu.

Wahai muridku, himpunlah dunia dan akhirat menjadi satu. Dan menyendirilah bersama Tuhanmu dengan ketetapan hatimu tanpa gangguan, baik urusan yang bersifat dunia bahkan urusan akhirat. Teguhlah bersama-Nya saja. Jangan berpaling dari pencipta hanya karena makhluk-Nya. Lepaskan segala penyebab yang dapat mengakibatkan putusnya dirimu dengan-Nya. Jika memungkinkan, tempatkan dunia untuk nafsumu, akhirat untuk hatimu.

Dan tempatkan Allah Ajja wa Jalla.Wahai muridku, jangan berdiri bersama dengan nafsu, syahwat, dunia, bahkan tidak juga dengan akhirat. Jangan mengikuti selain al-Hag Azzawajalla.Apabila itu dapatengkau lakukan, sungguh engkau telah menyimpan simpananan yang kekal. Jika datang kepadamu hidayah dari Allah Swt., yaitu hidayah yang tidak akan ada kesesatan setelahnya, maka segeralah bertaubat atas segala dosa.

Dan bergegaslah menuju keridhaan-Nya. Bertaubatlah atas dosa, baik lahir maupun batin. Sesungguhnya taubat adalah kemuliaan. Lepaskanlah ‘pakaian’ maksiat dan tukarkan dengan taubatan nashuha serta diiringi rasa malu terhadap Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar rasa malu.Ini semua adalah amaliyah hati setelah terpenuhinya penyucian anggota badan dengan berbagai ibadah yang disyari’atkan.

Anggota badan memiliki amalan, demikian juga hati. Jika hati telah keluar menjadi lisan dan berhubungan dengan makhluk lainnya, maka dia tengah mengarungi lautan tawakal dan marrifatullah. Dengannya dia telah meninggalkan sebab (makhluk) dan mencari musabbab (al-Khalig). Maka jika telah sampai di tengah lautan ini, dia akan berkata: Dialah yang menciptakanku, maka Dia yang memberikan petunjuk.” (Q.S. Asyu’ara: 78)

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker