16. KASIH SAYANG AYAH
da seorang laki – laki mempunyai seorang anak yang keras kepala (bandel). Seringkali ayahnya melarangnya mengganggu binatang dan memanjat pohon, akan tetapi ia tidak mendengarkan perkataannya.
Pada suatu hari ia memukul seekor kucing. Maka kucing itu menggigit kakinya sehingga melukainya dan ia merasa sangat kesakitan. Ia tidak dapat tidur ataupun makan karena sangat sakit. Maka ayahnya memanggilkan dokter, dan menderita kerugian yang
anyak untuk biaya dokter dan harga obat – obatan. Akan tetapi ayahnya tidak memperdulikan hal itu, karena ia ingin anaknya lekas sembuh.
Beberapa waktu kemudian sembuhlah anaknya. Maka anak itu insaf dari kebiasaannya yang buruk dan berjanji kepada ayahnya untuk selalu melakukan nasihat – nasihatnya dan tidak menentangnya, sehingga ia selamat dari gangguan dan ia pun hidup senang.
17. SOPAN SANTUN ANAK TERHADAP SAUDARA – SAUDARANYA
saudara laki – laki dan saudara perempuanmu adalah orang – orang yang paling dekat kepadamu setelah kedua orang tuamu. Apabila engkau ingin ayah dan ibumu gembira terhadapmu, maka bersikaplah sopan terhadap mereka dengan menghormati saudara laki – lakimu yang lebih tua dan saudara perempuanmu yang lebih tua dan mencintai mereka dengan cinta yang tulus ikhlas. Engkau ikuti nasihat mereka.
Dan sayangilah saudara – saudara lakimu yang kecil dan saudara perempuanmu yang kecil serta cintailah mereka dengan cinta yang benar. Janganlah engkau mengganggu mereka dengan memukul atau memaki. Jangan memutuskan hubungan dengan mereka atau merusak mainannya, karena hal itu akan membuat marah kedua orang tuamu.
Begitu pula janganlah engkau bertengkar dengan saudara laki – laki ataupun perempuan bila hendak masuk ke kamar mandi atau menggunakan mainan ataupun duduk di atas kursi atau karena sesuatu hal lainnya. Hendaklah engkau bersabar dan selalu mengalah. Hal ini akan menyenangkan kedua orang tuamu dan mendapatkan keridhaan mereka.
Maafkanlah saudaramu jika ia bersalah dan tunjukkan kesalahan dengan lemah lembut agar ia tidak berbuat kesalahan sekali lagi. Jauhilah dari banyak bergurau, karena hal itu menyebabkan dendam dan permusuhan.
18. DUA SAUDARA YANG SALING MENCINTAI
Ali dan Ahmad adalah dua bersaudara yang saling mencintai. Keduanya pergi ke sekolah bersama – sama. Keduanya saling membantu untuk menunaikan kewajiban mereka. Keduanya membaca pelajaran merekadi rumah dan di sekolah, dan bermain bersama – sama pada waktu bermain.
Pada suatu hari Ali membeli dua buah kitab, “BIMBINGAN AKHLAK” maka ia bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayahku, tolong beritahu aku dimana saudaraku Ahmad? Aku ingin menghadiahkan kepadanya sebuah dari kitab ini.” Ayahnya sangat bergembira dan memberitahukan bahwa saudaranya berada di ruang belajar.
Maka pergilah Ali dengan segera menuju ke ruang belajar, saat itu saudaranya sedang mengulangi pelajaran – pelajarannya. Ali member salam kepadanya dan memberinya buku. Ia tersenyum gembira, Ahmad menerimanya dengan mengucapkan terima kasih kepada saudaranya atas hadiahnya yang berharga.
Kemudian Ahmad memberikan kepada Ali sebuah kotak mungil tempat menyimpan pensil. Ia berkata, “ini hadiahku untukmu wahai saudarku yang mulia.” Ali senang sekali terhadap saudaranya dan gembira menerima kotak itu serta berterima kasih kepadanya.
Ketika guru mendengar cerita itu, ia sangat gembira terhadap kedua anak itu dan memuji mereka di hadapan murid – murid. Beliau berkata, “Wahai anak – anak, lihatlah kepada Ali dan Ahmad, alangkah berbahagianya mereka. Jadilah kalian semua seperti kedua saudara ini agar kalian hidup bahagia dan senang.”
19. SOPAN SANTUN ANAK TERHADAP PARA KERABATNYA
Anak yang berakal dan tercinta, ialah yang menghormati para kerabatnya, seperti: Kakek, Nenek, Paman dan Bibi. Ia sangat mencintai mereka, oleh karena mereka mencitainya juga, dan mencintai kedua orangtuanya.
Ia selalu menyenangkan para kerabatnya dengan mematuhi perintah – perintah mereka serta menjenguk mereka dari waktu ke waktu, terutama pada waktu hari – hari raya. Atau bila salah seorang dari mereka menderita sakit atau melahirkan bayi, ataupun datang dari suatu bepergian.
Ia gembira bila mereka gembira dan bersedih bila mereka bersedih dan tidak bersikap kurang sopan kepada salah seorang dari mereka, karena hal itu akan membuat Allah marah dan membuat marah kedua orang tua dan para kerabatnya.
Anak ynag berakal, mencintai pula anak – anak para kerabatnya. Ia bermain bersama mereka dan menanyakan keadaan mereka bilamana ia tidak melihat mereka, dan ia tidak senang bertamasya kecuali bersama mereka.
Ia suka membantu mereka apabila mereka membutuhkan sesuatu dan tidak bertengkar atau memutuskan hubungan dengan mereka atau bersikap muram muka/cemberut terhadap mereka, tetapi ia tersenyum dan gembira bila berjumpa dengan mereka dan berbicara bersama mereka dengan pembicaraan yang baik.
Anak yang berbuat baik kepada para kerabatnya akan hidup tenang dan diberi Allah rezeki yang banyak serata dipanjangkan umurnya.
20. MUSTHAFA DAN KERABATNYA YAHYA
Musthafa adalah seorang anak yang kaya, tetapi ia rendah hati dan sopan santun. Ia tidak sombong kepada siapapun da ia suka membantu orang – orang yang membutuhkan, terutama sekali jika mereka dari kerabatnya.
Pada suatu hari musthafa melihat seorang kerabatnya, Yahya putra pamannya memakai baju robek. Maka hatinya merasa iba dan ia pun cepat – cepat pergi ke rumahnya dan mengambilkan baju baru. Kemudian ia memberikan kepada Yahya, dan berkata, “silahkan wahai anak pamanku tercinta, terimalah dariku hadiah ini.” Yahya menerimanya dan kedua matanya penuh air mata karena gembira dan senang serta berterima kasih banyak kepadanya atas kebaikannya.
Ketika ayah Musthafa mengetahui cerita ini, ia pun sangat gembira atas bantuannya kepada kerabatnya itu, dan memujinya atas kebaikan budinya.









One Comment