76. Yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling taat dan paling ittiba’ dengan ajaran Al-Qur’an.
77. Pengertian Iman adalah: Beriman kepada Allah, para Malaikat, Kitab-Kitab-Nya, para RasulNya, Hari Akhir, dan Takdir baik maupun buruk, manis maupun pahit. Dan bahwa kesemuanya berasal dari Allah.
78. Kita mengimani semua itu. Kita tidak membeda-bedakan seorang pun di antara para Rasul. Kita membenarkan mereka semua beserta apa yang mereka bawa.
79. Para pelaku dosa besar di kalangan umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (bisa) masuk Naar, namun mereka tak akan kekal di dalamnya kalau mereka mati dalam keadaan bertauhid. Meskipun mereka belum bertaubat namun mereka menemui Allah (mati) dengan menyadari dosa mereka. Mereka diserahkan kepada kehendak dan keputusan Allah. Kalau Dia menghendaki, maka mereka dapat diampuni dan dimaafkan dosa-dosa mereka dengan keutamaan-Nya, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla: “Dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48, 116). Dan jikalau Dia menghendaki, mereka diadzab-Nya di Naar dengan keadilan-Nya. Kemudian Allah akan mengeluarkan mereka dari dalamnya dengan rahmat-Nya dan syafa’at orang yang berhak memberi syafa’at di kalangan hamba-Nya yang ta’at. Lalu mereka pun diangkat ke Jannah-Nya. Hal itu karena Allah adalah Wali bagi siapa yang berma’rifah kepada-Nya, maka Dia pun tidak menjadikan keadaan mereka di dunia dan di akhirat sama seperti mereka yang tidak berma’rifah kepada-Nya. Yaitu mereka yang luput, tak mendapatkan petunjuk-Nya, dan tidak dapat memperoleh hak kewalian-Nya. Wahai Dzat yang menjadi Wali bagi Islam dan pemeluknya, teguhkanlah kami bersama Islam sehingga kami datang menghadap ke haribaan-Mu.
80. Kami menganggap sah shalat (jama’ah) di belakang Imam, baik yang shalih maupun yang fasik dari kalangan Ahli Kiblat. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal di antara mereka.
81. Kita tak dapat memastikan mereka, masuk Jannah atau Naar.
82. Kita tak bisa bersaksi bahwa mereka itu kafir, musyrik, maupun munafik, selama semua itu tidak tampak nyata dari diri mereka. Kita menyerahkan rahasia hati mereka kepada Allah Ta’ala.
83. Kita tidak boleh mengangkat pedang (berperang/menumpahkan darah) terhadap seorang pun dari ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali terhadap mereka yang wajib diperangi.
84. Kita juga tidak membolehkan memberontak terhadap pemimpin-pemimpin dan Ulul ‘Amri kita, meskipun mereka berbuat lalim. Kita tidak menyumpahi mereka dan tidak berlepas diri dengan tidak taat kepada mereka. Kita berkeyakinan bahwa mentaati mereka sepanjang dalam ketaatan kepada Allah adalah wajib, selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat. Kita tetap mendoakan kebaikan untuk mereka dan agar mereka dikaruniai kebaikan jasmani maupun rohani.
85. Kita tetap mengikuti As-Sunnah dan Al-Jama’ah, menghindari sesuatu yang aneh, perselisihan (yang didasari menyelisihi Al-Jama’ah-pent.) dan menghindari perpecahan.
86. Kita mencintai orang yang adil dan menjaga amanah serta membenci orang yang zhalim dan khianat.
87. Terhadap sesuatu yang masih samar ilmunya bagi kita, kita mengucapkan Allahu A’lam.
88. Kita berpendapat disyari’atkannya mengusap khuff (sepatu) baik di waktu mukim maupun safar (bepergian). Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa riwayat.
89. Jihad dan ibadah haji dilakukan bersama Ulul ‘Amri, baik yang shalih maupun yang fasik, hingga hari kiamat. Keduanya tak dapat dibatalkan dan dirusak oleh segala sesuatu.
90. Kita mengimani para Malaikat yang Mulia, pencatat amal manusia. Sesungguhnya Allah telah menjadikan mereka sebagai pengawas bagi kita.
91. Kita juga mengimani Malaikat Maut yang diberi tugas mencabut nyawa para makhluk hidup.
92. Kita pun mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya dan juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabb dan agamanya berdasarkan riwayat-riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat Ridwanullahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman Jannah atau kubangan-kubangan Naar.
93. Kita juga mengimani Hari Ba’ats dan balasan amal perbuatan pada hari kiamat, kita juga mengimani pendedahan (penyingkapan) amal perbuatan, hisab, pembacaan catatan amal, ganjaran baik dan siksa, shirat dan al-mizan di Hari Kiamat.
94. Jannah dan Naar adalah dua makhluk Allah yang kekal, tak akan punah dan binasa. Sesungguhnya Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan makhluk lain dan Allah-pun menciptakan penghuni bagi keduanya.
95. Barangsiapa yang dikehendaki-Nya untuk masuk Jannah, maka itu adalah keutamaan dariNya. Dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya untuk masuk Naar, maka itu adalah keadilan dari-Nya. Masing-masing akan beramal sesuai dengan apa yang menjadi ketetapan dari-Nya dan akan kembali kepada apa yang menjadi kodratnya. Kebaikan dan keburukan seluruhnya telah ditetapkan atas hamba-hamba-Nya.
96. Kemampuan, yang dengan wujudnya datang kewajiban amal adalah semacam taufik yang bukan merupakan kriteria mahkluk. Adapun kemampuan dalam arti kesehatan tubuh, potensi, kekuatan, dan selamatnya diri dari bermacam musibah, adalah persiapan sebelum melakukan amalan. Dengan itulah hukum tersebut digantungkan, sebagaimana yang difirmankan Allah: “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sebatas kesanggupannya.“ (QS. Al-Baqarah: 286).
97. Amal perbuatan hamba adalah makhluk Allah, namun juga hasil usaha hamba itu sendiri.
98. Allah hanya membebani mereka sebatas yang mereka mampu. Dan mereka pun memang tidak akan mampu melainkan sebatas apa yang dibebankan Allah atas mereka. Itulah pengertian kalimat Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kita mengatakan: tiada jalan bagi seorang hamba dan tidak pula ia memiliki kebebasan beraktivitas, dan beranjak meninggalkan maksiat melainkan dengan pertolongan Allah. Dan seorang pun tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakan dan bertahan dalam ketaatan kepada Allah, melainkan dengan taufik-Nya.
99. Segala sesuatu berlaku menurut kehendak, ilmu, keputusan dan takdir-Nya. Dia berbuat sekehendak-Nya, namun tidaklah sekali-kali Dia mendzhalimi hamba-Nya. “Tidaklah Dia ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya tentang (apa yang mereka perbuat).” (QS. Al-Anbiyaa’: 23).
100. Do’a dan sedekah orang yang hidup dapat bermanfaat bagi mereka yang sudah mati.
101. Allah Ta’ala mengabulkan segala do’a dan memenuhi segala kebutuhan hamba-Nya
102. Dia-lah yang memiliki segala sesuatu namun tidak dimiliki oleh sesuatu. Tidak sekejappun (hamba-hamba-Nya) lepas dari rasa butuh kepada-nya. Barangsiapa yang merasa tak butuh kepada Allah sekejappun, dia telah kafir dan termasuk orang yang binasa.
103. Allah Subahanahu wa Ta’ala juga Murka dan Ridhla, namun tidak menyerupai satupun dari makhluk-Nya.
104. Kita mencintai para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antaranya. Tidak juga kita bersikap meremehkan terhadap seorang pun dari mereka. Kita membenci siapa-siapa yang membenci mereka dan siapa-siapa yang menyebutkan mereka dengan kejelekan. Kita pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah pengamalan ad-dien (agama), keimanan, dan ihsan. Sementara membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas.
105. Kita mengakui kekhalifahan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang pertama adalah Abu Bakr As-Shiddiq radliyallahu ‘anhu sebagai sikap mengutamakan dan mengunggulkan dirinya atas semua umat Islam.
106. Kemudian ‘Umar bin Al-Khattab radliyallahu ‘anhu.
107. Setelah itu ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu.
108. Kemudian ‘Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu.
109. Merekalah yang disebut dengan Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan para imam yang mendapat petunjuk.
110. Sepuluh orang sahabat yang disebut-sebut Nabi dan diberi kabar gembira sebagai penghuni Jannah, kita akui sebagai penghuni Jannah berdasarkan persaksian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkataan beliau yang benar. Mereka adalah: Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah [bin ‘Ubaidillah], Az-Zubeir [bin Al-Awwam], Sa’ad [bin Abi Waqqas], Sa’id [bin Zaid], Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abu ‘Ubaidah Al-Jarrah –orang tepercaya umat ini– radliyallahu ‘anhum.
111. Barangsiapa yang membaguskan ucapannya terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri beliau yang bersih dari segala noda, serta anak cucu beliau yang suci dari segala najis, maka orang itu telah selamat dari kemunafikan.
112. Para ‘ulama As-Salaf terdahulu [para sahabat-pent.] dan yang sesudah mereka dari kalangan Tabi’in adalah pelaku kebaikan dan ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul. Mereka semuanya harus disebutkan kebaikannya. Barangsiapa yang menjelek-jelekkan mereka, maka dia tidak berada di atas jalan mereka (para sahabat).
113. Kita tidak mengutamakan salah seorangpun di antara para wali Allah di atas seorang Nabi ‘Alaihi As-Sallam. Bahkan kita mengatakan bahwa seorang saja dari para Nabi itu lebih utama dibanding seluruh para wali.
114. Kita mengimani adanya karomah-karomah mereka dan segala riwayat tentang mereka yang dinukil dari para perawi yang tepercaya.
115. Kita juga mengimani adanya tanda-tanda hari kiamat berupa keluarnya Ad-Dajjal dan turunnya Nabi ‘Isa ‘Alaihis Sallam dari langit. Kita juga mengimani terbitnya matahari dari barat dan keluarnya Ad-Daabbah [salah satu tanda kiamat yaitu binatang yang dapat berbicara seperti manusia-pent.] dari kediamannya.
116. Kita tidak mempercayai (ucapan) dukun maupun peramal, demikian juga setiap orang yang mengakui sesuatu yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah serta Ijma’ kaum muslimin.
117. Kita meyakini bahwa Al-Jama’ah adalah haq dan kebenaran, sementara Al-Furqah adalah penyimpangan dan siksaan.
118. Ad-Dien (agama) Allah di langit dan di bumi hanyalah satu, yaitu dienul Islam, Allah berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhlai) di sisi Allah hanyalah Al-Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19). Dia juga berfirman: “Dan telah Aku ridlai Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3). Dan Islam itu berada di antara sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan, antara menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk dan menafikkan (meniadakan) sifat-sifat itu, antara Jabriyah (kaum yang bersandar kepada takdir saja) dan Al-Qadariyah (kaum yang menolak takdir), dan antara yang merasa aman dari siksa Allah dan yang putus asa dari rahmat Allah.
119. Inilah agama dan keyakinan kami lahir maupun batin. Kami berlepas diri –dengan kembali kepada Allah– dari setiap yang menyelisihi apa yang kami sebutkan dan kami jelaskan. Kita memohon kepada Allah untuk menetapkan diri kita di atas keimanan, mematikan kita dengan keyakinan itu, memelihara kita dari pengaruh hawa nafsu yang bermacam-macam, dan dari pendapat-pendapat yang beraneka ragam, dan mahdzab-mahdzab yang jelek, seperti: Mu’tazilah, Al-Jahmiyyah, Al-Jabriyyah, Al-Qadariyyah, dan lain-lain, dari kalangan mereka yang menyelisihi Al-Jama’ah dan bersanding dengan kesesatan. Kita berlepas diri dari mereka. Dan mereka menurut kami adalah orang-orang sesat dan jahat. Wa billahi Al-‘Ishmatu wa At-Taufiq









One Comment