BAB II KLASIFIKASI HADIST DAN SANAD BERDASARKAN MAQBUL DAN MARDUDNYA
Hadist dan isnad dari segi maqbul (diterima) dan mardud (ditolak) sebagai hujjah itu terbagi menjadi 3 bagian, yaitu: Sahih, Hasan, dan Dhaif.
Tiap-tiap dari tiga bagian hadist tersebut memiliki beberapa macam, berdasarkan tingkat kekuasaan atau kelemahanya. Berikut ini akan kami uraikan seluruhnya beserta bagian-bagiannya, insya Allah.
Hadist Shahih Lidzati
Definisi
Hadist Shahih Lidzati adalah hadist yang sanadnya bersambung-sambung, diriwayatkan oeleh orang yang adil, sempurna hafalannya dari orang yang skualitas dengannya hingga akhir sanad, tidak janggal dan tidak mengandung cacat yang parah.
Penjelasan Syarat- Syarat Hadist Shahih
- Sanadnya bersambung, maksudnya adalah rawi dalam sanad hadist bertali-temali, tidak ada yang gugur seorang pun. Dengan demikian, berarti tiap-tiap rawi pasti mendengar langsung dari gurunya. Oleh karena itu, hadist Al- Mu’allaq, Al Mu’adhdhal, Al Mursal, dan Al Munqati’ tidak termasuk hadist sahih, sebab sanadnya tidak bersambung.
- Perawi adil, artinya adil dalam periwayatan. Maksutnya rawi hadist mesti orang islam, dewasa, berpikiran sehat, selamat dari perbuatan dosa besar atau dosa-dosa kecil yang terus menerus, bebas dari hal-hal yang menodai kepribadian, misalnya makan di pasar, berjalan tanpa alas kaki atau tidak memakai tutup kepala. Oleh karena itu, riwayat orang yang fasik dan tidak dikenal kepribadian dan tingkah lakunya tidak dapat dikategorikan shahih, karena belum jelas keadilannya.
- Dhabith, artinya kuat ingatan. Dhabith ini ada dua macam, yakni:
- Dhabithush Shadri, artinya ingtan rawi itu benar-benar kuat menyimpan dalam pikirannya apa yang dia dengar, dan ingatannya itu sanggup dikeluarkan kapan dan dimana saja dikehendaki.
- Dhabithul Kitab, artinya rawi itu kuat ingatanya berdasarkan buku catatannya yang dia tulis sejak dia mendengar atau menerima hadist dan dia mampu menjaga tulisan itu dengan baik dari kelemahan, apabila dia meriwayatkan dari kitabnya. Hal ini berlaku pada zaman pertama periwayatan hadist dimasa lapau. Sedangkan untuk zaman sekarang, cukup berdasarkan pada naskah-naskah yang telah disepakati kesahihannya.
Dhabithul Tam, maksudnya ingatan atau hafalan yang sempurna dan tidak cacat. Karenannya, orang yang kadang-kadang baik ingatannya dan kadang-kadang llupa, tidak dapat dianggap sebagai orang yang sempurna ingatan atau hafalannya. Oleh sebab itu, Hadist Hasan Lidzati tidak termasuk bagian ini, sebab di dalamnya tidak dicantumkan syarat Dhabth yang sempurna.
Perkataan kami tentang: Perawi yang berkualitas sama awal hingga akhir sanad dalam definisi Hadist Shahih Lidzati diatas mencakup Hadist Marfu’, Mauquf, Maqthu’.
- Kejanggalan, Maksudnya adalah adanya perlawanan antara suatu hadist yang diriwayatkan oleh rawi yang dapat dipercaya dengan hadist yang diriwayatkan oleh jamaah atau sekelompok orang yang terpercaya pula, disebabkan dengan adanya penambahan atau pengurangan jumlah sanad atau tambahan dan kekurangan dalam materi hadist.
- Cacat yang parah, maksudnya cacat yang ada pada hadist dyang dari segi lahir hadist tersebut dapat diterima, tetapi setelah diselidiki dengan seksama jalur periwayatannya ternyata mengandung cacat yang menyebabkan hadist itu ditolak, misalnya hadist mursal atau munqathi’ yang diriwayatkan secara muttashil.
Contoh Hadist Shahih Lidzati
Contoh hadist sahih lidzati adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari, dari jalur Al-A’raj, dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda:
“ Seandainya aku tidak khawtair memberatkan umatku, pasti aku memerintahkan mereka agar bersiwak setiap kali hendak mengerjakan shalat.”
Hadist Hasan Lidzati
Definisi
Hadist hasan lidzati adalah hadist yang diriwayatkan oleh seorang yang adil, yang kuat ingatannya, bersambung-sambung sanadnya, tidak mengandung cacat dan tidak ada kejanggalan.
Contoh Hadist Hasan Lidzati
Contoh Hadist Hasan Lidztai adalah hadist yang diriwayatkan oleh At-turmudzi, dari jalur Muhammad bin Amer, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda:
“Kalau sekiranya aku tidak khawatir memberatkan umatku, pasti aku perintahkan mereka bersiwak tiap-tiap akan shalat.”
Dalam sanad hadist riwayat Imam At Turmudzi tersebut tersapat rawi bernama Muhammad bin Amer. Menurut ulama ahli hadist, dia dinilai kurang kuat hafalannya.
Hasan Lidzati Menjadi Sahih Lighairih
Hadist Hasan Lidzati bisa menjadi Shahih Lighairih, apabila menjadi kuat dengan adanya hadist yang sama dari jalur lain, yang serupa atau lebih banyak, sekalipun lebih rendah.
Contoh hadist Hasan Lidzati yang naik tingkatannya menjadi hadist shahih lighairih adalah hasit siwak riwayat Imam At-Tirmidzi, menjadi sahih lighairih, karena adanya hadist seperti itu melalu jalur Al-A’raj.
Hadist Hasan Lighairih
Hadist Hasan Lighairih adalah hadist yang snaadnya tidak sepi dari seorang yang tidak jelas perilakunya atau kurang baik hafalannya dan lain-lainnya. Hadist hasan lighairih ini harus memenuhi tiga syarat:
- Bukan pelupa yang banyak salahnya dalam hadist yang diriwayatkan.
- Tidak tampak ada kefasikan pada diri perawinya.
- Hadist yang diriwayatkan benar-benar telah dikenal luas, karena ada periwayatan yang serupa dengannya atau semakna, yang diriwayatkan dari satu jalur lain atau lebih.
- Catatan Istilah-Istilah Yang Berkaitan dengan Hadist Shahih dan Hasan
- Istilah Jayyid dan Qawiy itu sama dengan istilah sahih. Adapun istilah Tsabit, Mujawwad dan Shahih, diterapkan penggunannya pada hadist sahih dan hasan. Sedangkan istilah Musyabbih hanya diterapkan pada hadist hasan atau yang mendekati hasan.
- Perbedaan tingkat kekuatan hadist sahih itu menurut perbedaan sifat-sifat yang mempengaruhi kesahihan, baik dalam sanad atau matan hadist. Urut-urutan ketinggian hadist sahih adalah sebagai berikut:
- Hadist yang paling tinggi sanadnya, yaitu hadist yang sanadnya dikatakan oleh sebagian imam hadist sebagai Ashohhul Asaanid (yang paling baik sanadnya), sebagaimana perkataan Imam Al-Bukhari: Ashahul Asaanid (sanad yang paling baik) adalah riwayat Imam Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, menyusul kemudian riwayat Buraid bin Abdillah bin Abu Burdah, dari ayahya, dari datuknya, dari Abu Musa Al-Asy’ari.
- Hadist yang paling tinggi kesahihan matannya adalah :
- Hadist sahih yang telah disepakati oleh kedua Imam Hadist, yakni Bukhari dan Muslim.
- Hadist sahih yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari sendiri.
- Hadist yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslin sendiri.
- Hadist sahih yang diriwayatkan menurut syarat-syarat Imam Bukhari dan Muslim
- Hadist sahih yang diriwayatkan menurut syarat-syarat Imam Bukhari.
- Hadist sahih yang diriwayatkan menurut syarat-syarat Imam Muslim
- Hadist sahih menurut syarat selain Bukhari dan Muslim
Adapun hadist hasan itu sebagaimana hadist shahih, derajat sanad dan matannya juga berbeda. Hadist hasan yang paling tinggi derajat sanadnya adalah hadist hasan yang oleh salah seorang ahli hadist dikatakan sebgaai Ahsanul Asanid (bersanad paling hasan) sedangkan yang paling rendah tingkatan sanadnya adalah yang tidak seperti diatas.
Adapun hadist hasan yang paling tinggi derajat matannya adalah hadist yang diperdebatkan antara sahih dan hasannya, sedangkan yang rendah tingkatannya adalah hadist yang diperselisihkan tentang sahih dan dhaifnya.
- Kesahihan antara sanad dan matan itu tidak harus sama nilai derajatnya dalam satu hadist shaih. Sebab, satu hadist itu dinyatakan sahih dari segi sanad, karena sudah memenuhi syarat-syaratnya, seperti bersambung terus-meneurs dan lainnya, tetapi dari segi matannya tidak sahih, dikarenakan ada kejanggalan. Bisa juga terjadi sebailiknya, yakni sanad tidak shahih, karena tidak memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, tetapi matan hadist sahih berdasarkan jalur lain. Demikian pula halnya hadist hasan, mungkin satu hadist dinilai hasan dari segi sanad, tetapi dari segi matan tidak hasan.
- Kadang-kadang para ahli hadist memberi nilai satu hadist dengan dua nilai, dengan istilah hasan sahih. Istilah seperti ini pada dasarnya membingungkan, karena pengertian hasan berbeda dengan pengertian sahih. Menanggapi hal ini, ada jawaban yang simpel, yaitu diantara kata hasan dan sahih itu terdapat huruf Auw artinya “atau” yang dibuang jadi asalnya, hasan atau sahih. Maksudnya hadist tersebut bersifat sahih menurut jalur tertentu dan hasan menurut jalur lainnya.
- Penambahan yang dilakukan seorang rawi yang memenuhi syarat sahih dan hasan itu dapat diterima, selama penambahan itu tidak berlawanan dengan riwayat orang yang tidak melakukan penambahan. Apabila ada pertentangan, maka harus di-tarjih (memperbandingkan kekuatan riwayat masing-masing). Jika satu dari riwayat ada yang lebih kuat dari yang lain, maka yang kuat itulah yang diakui, sedangkan satu yang lainnya dianggap syad atau janggal.
Hadist Dhaif
Definisi
Hadist Dhaif adalah hadist yang tidak memenuhi satu syarat maqbul (diterima) atau lebih. Hadist dhaif itu banyak cabang dan bagiannya. Tingkat kedhaifan hadist dhaif itu berbeda-beda, menurut bobot, ringan, atau berat kedhaifan sanad dan matannya.
Hukum Hadist Dhaif
Sebenarnya hadist dhaif itu bisa diamalkan, selama kedhaifannya, tidak terlalu parah dengan syarat:
- Hadist yang dhaif itu masih dibawah satu hadist yang dapat diamalkan (sahih dan hasan).
- Dalam mengamalkan hadist dhaif harus dengan itikad untuk berhati-hati.
Sikap Pakar Hadist Terhadap Hadist Dhaif
Kedhaifan satu hadist menurut pakar ilmu Mustholah Hadist tidak pasti, bahwa ia tidak sahih dan tidak hasan. Sebab, boleh jadi hadist yang dhaif itu hakikatnya sahih atau hasan.
Demikian pula hadist shahih atau hasan, menurut mereka tidak pasti, bahwa hakikatnya sahih atau hasan. Sebab, boleh jadi ada kesalahan dan kealpaan pada orang yang adil dari kebenaran ada pula orang yang tidak adil.
Skema Pembagian Hadist Berdasar Maqbul dan Mardudnya




One Comment