Fiqh

Terjemahan Kitab Matan Taqrib

فَصْلٌ: وَالَّذِي يُنْقِضُ الوُضُوءَ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: مَا خَرَجَ مِنَ السَّبِيلَيْنِ وَالنَّوْمُ عَلَى غَيْرِ هَيْئَةِ المُتَمَكِّنِ وَزَوَالُ العَقْلِ بِسَكْرٍ أَوْ مَرَضٍ وَلَمْسُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ الأجْنَبِيَّةَ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ وَمَسُّ فَرْجِ الآدَمِي بِبَاطِنِ الكَفِّ وَمَسُّ حَلْقَةِ دُبُرِهِ عَلَى الجَدِيدِ

Fasal: Perkara yang membatalkan wudhu enam perkara: sesuatu yang keluar dari dua jalan (depan belakang), tidur dalam keadaan tidak tetap, hilang akal karena mabuk atau sakit, sentuhan laki-laki pada wanita bukan mahram tanpa penghalang, menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan bagian dalam, menyentuh kawasan sekitar anus (dubur) menurut qaul jadid.

فَصْلٌ: وَالَّذِي يُوجِبُ الغُسْلَ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: ثَلاَثَةٌ تَشْتَرِكُ فِيهَا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ وَهِيَ إلتِقَاءُ الخِتَانَينِ وَإنْزَالُ المَنِي وَالمَوْتُ وَثَلاَثَةٌ تَخْتَصُّ بِهَا النِسَاءُ وَهِيَ الحَيْضُ وَالنِّفَاسُ وَالوِلَادَةُ

Fasal: Perkara yang mewajibkan mandi enam perkara:, tiga di antaranya berlaku untuk laki-laki dan perempuan yaitu: senggama, keluar sperma dan mati. Tiga lainnya khusus untuk perempuan yaitu: haid, nifas dan melahirkan.

فَصْلٌ: وَفَرَائِضُ الغُسْلِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: النِّيَةُ وَإزَالَةُ النَّجَاسَةِ إِنْ كَانَتْ عَلَى بَدَنِهِ وَإيْصَالُ المَاءِ إِلَى جَمِيعِ الشَّعْرِ وَالبَشَرَةِ. وَسُنَنُهُ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَةُ وَالوُضُوءُ قَبْلَهُ وَإمْرَارُ اليَدِ عَلَى الجَسَدِ وَالمُوَالاَةُ وَتَقْدِيمُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى

Fasal: Fardhunya mandi itu tiga perkara, yaitu: niat, menghilangkan najis jika ada pada badan, mengalirkan air ke seluruh rambut dan kulit. Kesunnahan mandi itu lima perkara: membaca bismillah, wudhu sebelum mandi, menggosokkan tangan pada badan, bersegera, mendahulukan (anggota badan) yang kanan dari yang kiri.

فَصْلٌ: وَالاغْتِسَالَاتُ المَسْنُونَةُ سَبْعَةَ عَشَرَ غُسْلاً: غُسْلُ الجُمْعَةِ وَالعِيدَيْنِ وَالاسْتِسْقَاءِ وَالخُسُوفِ وَالكُسُوفِ وَالغُسْلُ مِنْ غُسْلِ المَيِّتِ وَالكَافِرِ إذَا أَسْلَمَ وَالمَجْنُونِ وَالمُغْمَى عَلَيهِ إِذَا أَفَاقَا وَالغُسْلُ عِنْدَ الإحْرَامِ وَلِدُخُولِ مَكَّةَ وَلِلْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ وَلِلْمَبِيتِ بِمُزْدَلِفَةَ وَلِرَمْيِ الجِمَارِ الثَّلاَثِ وَلِلطَّوَافِ وَلِلسَّعْيِ وَلِدُخُولِ مَدِينَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ

Fasal: Mandi yang disunnahkan itu ada 17 , yaitu: Mandi Jumat, duahari raya, shalat minta hujan (istisqa), gerhana bulan, gerhana matahari, setelah memandikan mayit, orang kafir apabila masuk Islam, orang gila dan ayan (epilepsi) apabila sembuh, saat akan ihram, akan masuk Makkah, wukuf di Arafah, menginap di Muzdalifah, melempar Jumrah yang tiga, tawaf, sai, masuk kota Madinah.

فَصْلٌ: وَالمَسْحُ عَلَى الخُفَّيْنِ جَائِزٌ بِثَلاَثَةِ شَرَائِطَ: أَنْ يَبْتَدِئَ لُبْسُهُمُا بَعْدَ كَمَالِ الطَّهَارَةِ، وَأَنْ يَكُونَا سَاتِرَيْنِ لِمَحَلِّ غَسْلِ الفَرْضِ مِنَ القَدَمَيْنِ، وَأَنْ يَكُونَا مِمَّا يُمْكِنُ تَتَابُعُ المَشْيِ عَلَيْهِمَا.

Fasal: Mengusap kedua khuf boleh dengan 3 syarat: hendaknya memakai keduanya setelah sempurnanya bersuci, hendaknya keduanya menutupi telapak kaki yang wajib dibasuh, dan hendaknya keduanya memungkinkan untuk dipakai untuk berjalan

وَيَمْسَحُ المُقِيمُ يَوْماً وَلَيْلَةً وَالمُسَافِرُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ بِلَيَالِيهِنّ، وَابْتِدَاءُ المُدَّةِ مِنْ حِينِ يُحْدِثُ بَعْدَ لُبْسِ الخُفَّيْنِ، فَإنْ مَسَحَ فِي الحَضَرِ ثُمَّ سَافَرَ أَوْ مَسَحَ فِي السَّفَرِ ثُمَّ أَقَامَ أَتَمَّ مَسْحَ مُقِيمٍ.

.Orang mukim dapat memakai khuf selama satu hari satu malam. Sedangkan musafir selama tiga hari tiga malam. Masanya dihitung dari saat hadats (kecil) setelah memakai khuf. Apabila memakai khuf di rumah kemudian bepergian atau mengusap khuf di perjalanan kemudian mukim maka dianggap mengusap khuf untuk mukim.

وَيَبْطُلُ المَسْحُ بِثَلاَثَةِ أَشْيَاءَ: بِخَلْعِهِمَا وَانقِضَاءِ المُدَّةِ وَمَا يُوجِبُ الغُسْلَ

 Mengusap khuf batal dengan tiga perkara: melepasnya, habisnya masa dan perkara yang mewajibkan mandi.

فَصْلٌ: وَشَرَائِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: وُجُودُ العُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ وَدُخُولُ وَقْتِ الصَّلاَةِ وَطَلَبُ المَاءِ وَتَعَذُّرُ اسْتِعْمَالِهِ وَإعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ وَالتُّرَابُ الطَّاهِرِ لَهُ غُبَارٌ فَإِنْ خَالَطَهُ جَصُّ أَوْ رَمْلٌ لَمْ يَجُزْ.

Fasal: Syarat-syarat tayammum itu lima perkara: adanya udzur karena perjalanan atau sakit, masuk waktu shalat, mencari air, tidak dapat menggunakan air dan tidak ada air setelah mencari, debu yang suci. Apabila tercampur najis atau pasir maka tidak sah.

وَفَرَائِضُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ وَمَسْحُ الوَجْهِ وَمَسْحُ اليَدَيْنِ مَعَ المِرْفَقَيْنِ وَالتَّرْتِيبُ.

 Fardhunya tayammum empat perkara: niat, mengusap wajah, mengusap kedua tangan sampai siku, tertib.

وَسُنَنُهُ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَةُ وَتَقْدِيمُ اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى وَالمُوَالَاةُ.

 Sunnahnya tayammum ada 3 (tiga) yaitu: (a) Membaca bismillah, (b) mendahulukan yang kanan dari yang kiri, (c) bersegera.

وَالَّذِي يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: مَا أَبْطَلَ الوُضُوءَ وَرُؤْيَةُ المَاءِ فِي غَيْرِ وَقْتِ الصَلاَةِ وَالرِّدَّةِ

Yang membatalkan tayammum ada 3 (tiga) yaitu: (a) perkara yang membatalkan wudhu, (b) melihat air di selain waktu shalat, (c) murtad.

وَصَاحِبُ الجَبَائِرِ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَتَيَمَّمُ وَيُصَّلِي وَلَا إِعَادَةَ عَلَيْهِ إنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طُهْرٍ وَيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ فَرِيضَةٍ وَيُصَلِي بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ مَا شَاءَ مِنَ النَوَافِلِ

Orang yang memakai perban mengusap di atasnya, bertayammum dan shalat dan tidak perlu mengulangi shalatnya apabila saat memakai perban dalam keadaan suci.
Satu tayammum berlaku untuk satu kali shalat fardhu dan 1 shalat sunnah. Satu kali tayammum dapat dipakai beberapa kali shalat sunnah.

فَصْلٌ: وَكُلُّ مَائِعٍ خَرَجَ مِنَ السَبِيلَيْنِ نَجِسٌ إِلَّا المَنِيَّ

Setiap benda cair yang keluar dari dua jalan (anus dan kemaluan) hukumnya najis kecuali sperma.

وَغَسْلُ جَمِيعُ الأَبْوَالِ وَالأَرْوَاثِ وَاجِبٌ إِلَّا بَوْلِ الصَّبِيَّ الَّذِي لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ فَإِنَّهُ يَطْهُرُ بِرَشِّ المَاءِ عَلَيْهِ

Membasuh kencing dan kotoran (tinja) itu wajib kecuali kencing bayi laki-laki kecil yang belum memakan makananan (kecuali ASI) maka cara menyucikannya cukup dengan menyiramkan air.

وَلَا يُعْفَى عَنْ شَيْءٍ مِنَ النَّجَاسَاتِ إِلَّا اليَسِيرَ مِنَ الدَّمِ وَالقَيْحِ وَمَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ إِذَا وَقَعَ فِي الإنَاءِ وَمَاتَ فِيهْ فَإنَّهُ لَا يُنَجِّسُهُ

 Perkara yang najis tidak dimaafkan kecuali sedikit seperti darah hewan yang tidak mengalir apabila jauh ke dalam bejana (wadah) dan mati maka tidak menajiskan isi bejana.

وَالحَيَوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلَّا الْكَلْبَ وَالخِنْزِيرِ وَمَا تَوَلَّدَ مِنهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا

Seluruh binatang itu suci kecuali anjing dan babi dan yang lahir dari keduanya atau salah satunya.

وَالمَيْتَةُ كُلُّهَا نَجِسَةٌ إِلَّا السَّمَكَ وَالجَرَادَ وَالآدَمِيَّ.

Adapun bangkai itu najis kecuali ikan, belalang dan manusia.

وَيُغْسَلُ الإنَاءُ مِنْ وُلُوغِ الكَلْبِ وَالخِنْزِيرِ سَبْعَ مَرَّاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ وَيُغْسَلُ مِنْ سَائِرِ النَّجَاسَاتِ مَرَّةً تَأْتِي عَلَيْهِ وَالثَّلاَثُ أَفْضَلُ

Bejana yang terkena jilatan anjing dan babi harus dibasuh 7 (tujuh) kali salah satunya dengan tanah. Sedang najis yang lain cukup dibasuh sekali namun 3 kali lebih baik.

وَإِذَا تَخَلَّلَتْ الخَمْرَةُ بِنَفْسِهَا طَهُرَتْ وَإنْ خَلَّلَتْ بِطَرْحِ شَيْءٍ فِيهَا لَمْ تَطْهُرْ

Apabila khamar (arak) menjadi anggur dengan sendirinya maka ia menjadi suci. Apabila perubahan itu karena memasukkan sesuatu maka tidak suci.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker