RINGKASAN
Sebagaimana manusia yang terdiri dari substansi yang lengkap menderita dari demam ringan, begitu juga menderita dengan goncangan gempa di dunia dan gempa besar yang akan terjadi ketika hari kiamat. Manusia takut pada bakteri kecil seperti juga ia takut terhadap meteor-meteor yang muncul di angkasa. Manusia mencintai rumahnya dan merasa nyaman di dalamnya sebagaimana ia mencintai dunia yang besar ini. Manusia suka akan tamannya yang kecil seperti ia merindukan surga abadi dan berharap untuk menghuninya.
Begitulah selalu kehidupan manusia. Karena itu tidak ada sesembahan, pencipta, pengatur, pelindung selain Dzat yang di tangan-Nya rahasia langit dan bumi. Segala sesuatu tunduk pada aturan-Nya, oleh karena itu manusia pasti sangat butuh untuk menghadapkan wajah kepada Allah serta menundukkan diri di hadapan-Nya seperti Nabi Yunus as. dengan munajatnya:
“Maha suci Engkau. Tidaklah kami memiliki pengetahuan kecuali yang Engkau ajarkan pada kami Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui dan Maha Bijaksana.” (al-Baqarah [2]: 32)
CAHAYA KEDUA
“Dan ingatlah kisah Ayyub, ketika ta menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (Al-Anbiya [21]: 83).
Mungkin inilah yang telah dipanjatkan oleh penghulu orang-orang yang sabar, Nabi Ayyub a.s. Doa ini adalah doa yang mujarrab, dan sangat efektif. Maka selayaknya bagi kita untuk mengutip dari nur ayat suci ini (sebagai doa) dan bermunajat:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan
Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.
Dan kisah nabi Ayyub a.s. kita sebutkan secara ringkas sebagai berikut:
Dalam rentang waktu yang sangat panjang, Nabi Ayyub a.s. tetap sabar dan tegar dalam menghadapi penyakit kronis yang sedang menjangkitinya sampai sekujur tubuhnya penuh dengan luka borok dengan nanah. Dia tetap bersabar sembari mengharap pahala dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.
Ketika ulat-ulat yang berasal dari luka beliau mulai menyerang qalbu dan lidahnya yang merupakan tempat zikrullah dan makrifatNya, dia bersimpuh dihadapan Tuhannya yang Maha Mulia, Allah SWT, dengan munajat doa yang indah :
Dipanjatkannya munajat tersebut karena dia khawatir ibadahnya terganggu, bukan meminta kelonggaran. Oleh karena itu, Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa menjawab munajat yang suci dan tulus tersebut dengan bentuk jawaban yang luar
biasa, sekaligus Dia angkat musibahnya dan menganugerahkannya kesehatan yang sempurna dan telah memberinya keindahan-keindahan rahmat-Nya yang sangat luas itu. Dalam Cahaya ini terdapat lima perkara yang sangat tinggi nilainya :









One Comment