Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab At Tadzkirah Fi Ahwalil Mauta

Ada dua alasan yang mendorong Maryam mengharapkan mati, yaitu:

Pertama, dia takut terus-menerus disangka buruk dan dicela. Karena hal tersebut dapat membuat fitnah terhadap agama.

Kedua, gara-gara dirinya, dia tidak ingin kaumnya jatuh dalam jurang kebohongan dan kedustaan, sehingga mereka menuduhnya telah berbuat zina, dan itu bisa membuat mereka celaka.

Menyinggung orang yang telah memfitnah Aisyah, Allah Ta’ala berfirman,

“Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang

diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula).” (QS. an-Nur: 11)

“Dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.”

(QS. an-Nur: 15)

Para ulama Ahli Tafsir berselisih pendapat mengenai Maryam. Apakah ia seorang wanita yang benar-benar sangat jujur seperti dalam firman-Nya,

“Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran.” (QS. al-Ma’idah: 75)

Ataukah dia seorang nabi wanita seperti dalam firman-Nya,

“Kami mengutus roh kami (Jibril) kepadanya.” (QS. Maryam: 17)

“Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, ‘Wahai maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu.” (QS. Ali ‘imran: 42)

Dia diuji dengan ujian yang berat berupa fitnah dan berita bohong yang menimpa dirinya. Berdasarkan dua penafsiran yang saya kemukakan tadi, bisa diambil kesimpulan bahwa mengharapkan mati bagi Maryam dalam keadaan seperti itu boleh dengan alasan seperti tadi. Wallahu a’lam.

Sedang hadis Abu Hurairah tadi, yang menjelaskan tentang keinginan mati seseorang yang melewati kubur, itu merupakan kabar. Artinya, hal itu bisa terjadi disebabkan keadaan manusia yang sudah memprihatinkan karena sudah sangat minimnya akhlak dan nilai-nilai agama. Sementara yang bersangkutan tidak berdaya mengatasinya. Jadi, bukan karena penderitaan yang menimpa, baik yang menyangkut kesehatan, ekonomi, maupun yang lainnya. Hal itu diperjelas dengan doa yang dipanjatkan Rasulullah Saw.,

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar dapat melakukan kebajikan kebajikan, meninggalkan  kemungkaran-kemungkaran, dan  mencintai orang-orang miskin. Dan, jika Engkau telah menghendaki suatu fitnah terhadap manusia, maka cabutlah nyawaku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, dan Malik.

Hal itu semakin diperjelas oleh doa yang pernah dipanjatkan Umar bin Khaththab dalam riwayat Malik dalam kitab al-Muwaththa, “Ya Allah, kekuatanku telah melemah, usiaku sudah tua, dan rakyatku sudah menyebar Ke mana mana. Karenanya, panggillah aku menghadap-Mu dalam keadaan tidak menyia-nyiakan ataupun lalai terhadap kewajiban.” Dan, tidak genap satu bulan, Umar pun pergi ke rahmatullah.

Diriwayatkan oleh Abu Umar bin Abdit Barr sebuah hadis dalam kitab at-Tamhid dan al-istidzkar, dari Zadan Abi Umar dari ‘Alim al Kindi, dia berkata, ketika Abu al-Abbas al-Ghifari duduk bersamaku di sebuah teras, dia melihat beberapa orang yang menderita penyakit tha’un. Dia lalu berkata sebanyak tiga kali, “Hai tha’un, bawalah

aku kepadamu.” Mendengar ucapan aneh itu, aku bertanya, “Mengapa kamu berkata seperti itu? Bukankah Rasulullah Saw. pernah bersabda, janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan mati, karena pada saat itu terputuslah amalnya, dan ia tidak bisa lagi berbuat amal saleh dan mengharapkan keridaan Allah atas kesalahan- kesalahannya.”

Maka Abu al-Abbas menjawab, aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Mintalah segera kematian karena enam hal. Yakni, jika orang-orang bodoh menjadi penguasa, banyaknya tanda-tanda kiamat, maraknya penjualan hukum, diremehkannya darah (nyawa), maraknya pemutusan hubungan kekeluargaan, dan generasi yang menjadikan al-Qur’an sebagai permainan, sampai-sampai mereka menyuruh orang untuk melagukannya padahal ia sangat minim pengetahuannya tentang agama.”

Baca selengkapnyan dalam versi PDF dibawah ini

Untuk dapat membaca terjemahannya, diperlukan browser yang mendukung buka aplikasi PDF.

Jika anda tidak dapat membacanya, berarti anda harus mengganti browser yang dapat membaca aplikasi PDF.

Dan sebaiknya anda buka di komputer atau laptop dan gunakan aplikasi Google Chrome untuk hasil yang lebih maksimal

Al-Tadzkirah-Fi-Ahwal-al-Mauta-Wa-Umur-al-Akhirah-al-Imam-al-Qurtubi-In-Indonesian-PDF

Laman sebelumnya 1 2
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker