Sejarah

Terjemah Kitab Dardir Mi’raj

Ia lalu membukakan pintu untuk Nabi s.a.w dari Jibril a.s. Dan begitu mereka sudah ada di dalam, ternyata itu adalah Ibrahim sang kekasih Allah. Ia sedang duduk di dekat pintu surga di atas kursi dari emas seraya menyandarkan punggungnya pada Baitul-Ma’mur. Ia ditemani beberapa orang.

Nabi s.a.w mengucapkan salam kepada Ibrahim. Dan setelah menjawabi salam beliau, ia mengucapkan: “Selamat datang wahai saudara yang sholih dan seorang nabi yang sholih.”

Selanjutnya Ibrahim berkata kepada Nabi s.a.w: “Suruh umatmu untuk sebanyak mungkin menanam tanaman surga, karena tanah surga itu sangat subur dan luas.”

“Apa itu tanaman surga?”, tanya Nabi.

“Yaitu ucapan: La haula wa Ia quwwata illa billah-il-aliyy-il’azhim (Tidak ada daya serta kekuatan sama sekali tanpa pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)”, jawab Ibrahim.

Dalam riwayat lain disebutkan, Ibrahim a.s. berkata kepada Nabi s.a.w: “Sampaikan salamku kepada umatmu, dan beritahu mereka bahwa tanah surga itu indah, airnya tawar, dan tanamannya ialah kalimat: Subhanallahi wal-hamdulillahi wa Ia ilaha illallahu wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji kepunyaan Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar).”

Di dekat Ibrahim a.s ada serombongan orang yang tengah duduk dengan wajah putih bersih laksana kertas, dan juga ada serombongan orang yang ada sesuatu pada warna wajah mereka. Rombongan orang yang akhir ini berdiri lalu memasuki sebuah sungai. Setelah mandi di sana, mereka keluar dan dengan muka yang agak bersih. Lalu mereka memasuki sebuah sungai yang lain. Setelah mandi di sana, mereka keluar dengan muka yang sudah sama sekali bersih. Kemudian mereka memasuki sebuah sungai yang ketiga. Dan setelah mandi di sana, mereka keluar dengan penampilan wajah seperti wajah rombongan yang pertama tadi.

Mereka lalu duduk bergabung bersama-sama dengan temantemannya tersebut.

“Wahai Jibril, siapa orang-orang yang wajahnya putih bersih laksana kertas, dan juga siapa orang-orang yang warna wajah mereka ada sesuatu tadi? Lalu bagaimana dengan sungai-sungai yang mereka masuki lalu mereka di sana?”, tanya Nabi.

“Orang-orang yang wajahnya putih bersih laksana kertas adalah suatu kaum yang iman mereka tidak dicampuri dengan kezhaliman. Orang-orang yang warna wajahnya ada sesuatu itu adalah suatu kaum yang biasa mencampur amal saleh dengan amal buruk. Mereka mau bertaubat, dan Allah pun berkenan menerima taubat mereka. Adapun sungai-sungai tadi, yang pertama adalah lambang rahmat Allah, yang kedua lambang nikmat Allah, dan yang ketiga Allah memberi minum mereka dengan air minum yang suci mensucikan. Ada yang mengatakan, itulah tempat anda dan tempat umat anda kelak”, jawab Jibril.

Sesungguhnya umat Nabi s.a.w terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian dari mereka mengenakan pakaian putih bersih laksana kertas, dan satu bagian lagi mengenakan pakaian berwarna abu-abu.

Selanjutnya Nabi s.a.w memasuki Bait-ul-Ma’mur. Ikut masuk bersama beliau adalah orang-orang yang mengenakan pakaian putih. Sementara orang-orang yang mengenakan pakaian abu abu tidak bisa ikut masuk. Tetapi mereka tetap dalam keadaan baik-baik saja. Beliau dan orang-orang mu’min yang bersama beliau melakukan shalat di Bait-ul-Ma’mir, Setiap harinya tempat ini dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat yang tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat nanti, Beliau mengambil posisi tepat di belakang Ka’bah.

Dalam riwayat lain disebutkan, ada tiga bejana yang diperlihatkan kepada Nabi s.a.w. Ketika beliau memilih bejana yang berisi susu. Jibril a.s. membenarkannya, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Jibril berkata: “Itulah fitrah yang anda dan umat anda ada padanya.”

Selanjutnya Nabi s.a.w. naik ke Sidrat-ul-Muntaha, sebagai tempat terakhir perjalanan mi’raj beliau yang dimulai dari bumi. Di sana ada sebatang pohon yang dari akarnya keluar beberapa sungai dari air yang berubah-ubah, beberapa sungai yang rasanya tidak akan pernah berubah, beberapa sungai khamar yang rasanya lezat bagi orang-orang yang meminumnya, dan beberapa sungai madu murni. Orang berkendara yang berjalan mengelilingi naungan pohon tersebut membutuhkannya waktu selama tujuh puluh tahun, dan belum juga selesai karena saking besarnya pohon tersebut.

Selembar daunnya saja lebarnya seperti beberapa telinga gajah betina. Daunnya hampir-hampir menutupi umat ini. Menurut suatu riwayat, daun-daun pohon inilah yang menaungi seluruh makhluk, dan setiap lembarnya ada malaikat yang menutupinya sehingga tidak tahu apa warnanya.

Disebutkan dalam riwayat lain, selembar daunnya bisa berubah menjadi permata, dan tidak ada seorang pun yang sanggup melukiskan keindahannya. Di dekat pohon tersebut terdapat hamparan dari emas. Dan pada akarnya terdapat empat buah sungai, dua sungai dalam, dan dua sungai luar.

“Sungai-sungai apa saja itu, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

“Dua sungai dalam ialah sepasang sungai yang ada di surga, dan dua sungai luar ialah sungai Nil dan sungai ‘Ifrat”, jawab Jibril.

Dalam riwayat lain disebutkan, sesungguhnya Nabi s.a.w melihat Jibril di Sidrat-ul-Muntaha memiliki enam ratus sayap yang masing-masing sayap menutupi kaki langit, dari dalam sayapsayap Jibril inilah bertaburan butir-butir mutiara serta permata yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah ta’ala.

Kemudian Nabi s.a.w memasuki surga. Di dalamnya terdapat nikmat-nikmat yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Di pintu surga beliau melihat tulisan: “Pahala Sedekah Itu Dilipatgandakan Sepuluh Kali, Dan Pahala Menghutangi Dilipatgandakan Delapan Belas Kali.”

“Kenapa menghutangi itu lebih utama daripada bersedekah, wahai Jibril?”, tanya Nabi.

“Karena orang yang meminta itu terkadang ia masih punya sesuatu. Sementara orang yang hutang itu pasti karena terpaksa oleh kebutuhan”, jawab Jibril.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker