Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Ighatsatul Lahfan

Amma ba’du.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan makhluk-Nya tanpa tujuan yang pasti. Allah menciptakan mereka sebagai obyek ¢ak/i, perintah, dan larangan. Allah mewajibkan mereka memahami apa yang Dia tunjukkan kepada mereka dengan global dan detail, serta membagi mereka ke dalam dua kelompok; orang celaka dan orang bahagia. Allah ta’ala menyediakan “tempat kembali” bagi masing-masing kelompok. Allah ta’ala memberi mereka sumber-sumber ilmu dan amal perbuatan, yaitu hati, telinga, mata, dan organ tubuh lainnya sebagai nikmat dan karunia dari-Nya. Barang siapa menggunakan semua organ tubuhnya untuk taat kepada-Nya, berjalan dengannya di atas jalan ma’rifah kepada-Nya sesuai dengan apa yang Dia tunjukkan kepadanya, dan tidak tertarik berpaling daripada-Nya,

sungguh ia telah melakukan hak syukur atas apa yang dianugerahkan kepadanya, dan dengannya ia meraih jalan kepada keridhaan-Nya. Sebaliknya, Barang siapa menggunakan semua organ tubuhnya untuk memenuhi seluruh keinginannya dan syahwatnya, serta tidak memperhatikan hak Allah atas organ tubuhnya, sungguh ia rugi jika ia dimintai pertanggungan jawab tentang manfaat organ tubuhnya, dan sedih berkepanjangan. Sesungguhnya pertanggungan jawab pasti terjadi terhadap seluruh organ tubuh, berdasarkan firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta

pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’: 36).

Hati bagi seluruh organ tubuh adalah bak raja yang mengendalikan pasukan, mengeluarkan instruksi kepada mereka, dan menggunakan mereka semaunya. Semua organ tubuh berada di bawah perbudakan hati, dan di bawah kendalinya. Dari hati pula konsekuen (istiqamah) di atas jalan yang benar, dan penyimpangan itu berasal. Organ tubuh mengikuti apa saja yang diinginkan hati. Rasulullah Shatlallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah. Jika ia baik, baik pula seluruh tubuh.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At- Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, dan AdDarimi).

Artinya bahwa hati adalah raja bagi organ tubuh manusia, dan organ tubuh manusia adalah pelaksana apa saja yang diinginkan hati, penerima petunjuknya, dan semua aktivitas organ tubuh tidak ada artinya tanpa adanya niat dari hati. Hati kelak dimintai pertanggungan jawab tentang kepemimpinannya terhadap organ tubuh. Karena setiap pemimpin akan dimintai pertanggungan jawab tentang kepemimpinannya terhadap rakyatnya, maka konsentrasi perbaikan dan pelurusan hati harus menjadi fokus para Salikin (pejalan spiritual), dan deteksi penyakit-penyakit hati sekaligus upaya penyembuhannya harus diperhatikan dengan serius oleh para ahli ibadah dalam ibadahnya Kepada Allah Ta’ala.

Baca selengkapnyan dalam versi PDF dibawah ini

Untuk dapat membaca terjemahannya, diperlukan browser yang mendukung buka aplikasi PDF.

Jika anda tidak dapat membacanya, berarti anda harus mengganti browser yang dapat membaca aplikasi PDF.

Dan sebaiknya anda buka di komputer atau laptop dan gunakan aplikasi Google Chrome untuk hasil yang lebih maksimal

Ighastah-al-Lahfan-Min-Masayid-Shaitan-Ibn-Qayyim-al-Jauziyah-In-Indonesian-PDF

Laman sebelumnya 1 2
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker