Fiqh

Terjemahan Kitab Fathul Ilah

Kaum shalihin pada zaman dahulu tidaklah menjadi pembesar para ulama melainkan karena berkat karunia Allahu ta’ala dan sebab amal ketaatan mereka kepada perintah-

perintah-Nya, juga di samping itu karena usaha mereka menuntun umat manusia ke jalan-Nya.

Jika kamu belum pantas, maka jalan untuk mendapatkan kedudukan layak itu adalah dengan cara mengerjakan amal kebajikan dan menyeru pada kebaikan.

Adapun orang yang celaka adalah orang yang keras pada pendirian yang salah dan menyeru pada kesesatan. Orang yang mencegah dirinya untuk berbuat kebajikan dan mencela orang lain yang menjalankan kewajiban dan hak Allah, orang yang seperti inilah yang tergolong mendapat predikat celaka, dan kelak ia akan malu, dikecewakan dan dihinakan oleh Allahu subhanahu wa ta’ala.

Orang yang berlapang dada untuk menasihati hamba Allah dan mengajak mereka ke pintu-Nya, itulah orang-orang yang telah ditetapkan mendapatkan keberuntungan, kebaikan, kebahagiaan, kemenangan dan keridhaan. Merekalah pewaris para Nabi, imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa, dan mereka adalah orang-orang pilihan Allahu subhanahu wa ta’ala dari golongan orang-orang yang beriman, mereka adalah orang-orang yang kokoh serta mendalam dalam hal ilmunya, orang-orang yang mendalami hakikat iman, yakin dan ihsan. Mereka adalah orang-orang yang mendapat rahasia Allahu subhanahu wa ta’ala dengan dibuka mata batinnya sehingga mereka dapat menyaksikan rahasia-Nya dengan nyata.

Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam bersabda:

“Semua makhluk adalah hamba Allah, dan orang yang paling dicintai Allah adalah

orang yang paling bermanfaat terhadap hamba-Nya yang lain.”

Tidak ada seorang pun yang mampu memberikan manfaat terhadap makhluk Allah selain mengajak mereka ke pintu Allahu subhanahu wa ta’ala dengan cara memberitahukan kepada mereka tentang kewajiban mereka menunaikan hak-hak Allah seperti mentauhidkanNya, dan taat kepada-Nya, mengingatkan mereka tentang ayat-ayat dan nikmat-Nya, serta memberikan kabar gembira kepada mereka atas rahmat-Nya, sekaligus juga memberi peringatan kepada mereka tentang murka-Nya

yang akan menimpa orang-orang yang berpaling dari-Nya dari golongan orang-orang kafir dan fasik.

Imam Faqihul Haram Abu Muhammad “Atha’ ibn Abi Rabah rahimahullah ta’ala

pernah mengatakan:

“Barang siapa yang duduk di majelis zikir, maka Allah akan menghapus dosa sepuluh majelis dari majelis-majelis yang batil yang pernah ia hadiri.” Beliau ditanya, “Apa yang dimaksud majelis zikir?” Beliau menjawab, “Majelis zikir adalah majelis yang menerangkan tentang halal dan haram, bagaimana cara kamu shalat, bagaimana kamu puasa, bagaimana saat kamu menikah, mentalak, menjual dan membeli.” Jika orang bodoh sibuk mencari dunia, sehingga lalai mencari kebenaran dan ilmu agama, maka ia telah menghadapkan dirinya untuk mendapat murka Allahu ta’ala serta ridha dengan kerugian dan kerendahan, sehingga ia termasuk dalam golongan orang-orang yang Allahu subhanahu wa ta’ala sifatkan dalam firman-Nya:

“Dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus (10): 7-8)

Maimun ibn Mihran rahimahullah berkata:

“Perumpamaan orang yang melihat seseorang yang buruk shalatnya lalu ia tidak menegurnya, adalah seperti halnya orang yang melihat saudaranya sedang tidur hendak di patuk oleh seekor ular, namun ia mendiamkannya (tidak menyelamatkannya).”

Telah sampai riwayat kepada kami bahwa kelak seseorang akan saling tarik-menarik satu dengan yang lainnya di hari kiamat sedangkan mereka tidak saling mengenal. Orang itu bertanya kepada temannya tadi, “Apa yang kau inginkan dariku, sungguh aku tak mengenalmu.” Temannya tadi menjawab, “Dahulu engkau melihatku dalam kesalahan, tetapi engkau tidak menegur aku!”

Rasulullah shallallahu “alaihi  wa sallam  melihat  seseorang  sedang  mengerjakan shalat dengan tidak menyempurnakan rukuk dan  sujudnya. Maka  Baginda  Nabi “alayhish-shalatu was-salam pun bersabda, “Kalau seandainya kamu mati, maka kematian yang kamu alami adalah kematian yang tidak dalam fitrah (suci) sebagaimana Allah jadikan kesucian itu ada pada diri Muhammad.”

Sebagaimana wajib bagimu wahai manusia untuk mempelajari ilmu yang wajib bagimu serta apa yang kau butuhkan, maka wajib pula bagimu untuk mengajari istri dan anak-anakmu serta semua orang yang ada di bawah tanggunganmu baik laki-laki maupun perempuan. Jika engkau tidak mampu, wajib bagimu memerintahkan mereka untuk keluar rumah menuju orang yang berilmu supaya mereka belajar dari mereka (para ulama) sekedar apa yang diwajibkan. Jika tidak, maka engkau berdosa dan berdosa pula dari mereka yang telah sampai usia baligh.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker