Fiqh

Terjemahan Kitab Fathul Ilah

TATIMMAH (PENYEMPURNAAN!): SEGALA HAL YANG WAJIB DIPELAJARI PEREMPUAN SETIAP PEREMPUAN

wajib mempelajari tentang segala sesuatu yang dihadapinya seperti pengetahuan tentang masalah haid dan selainnya. Apabila sang suami merupakan orang yang “alim maka sang suami wajib mengajar istrinya. Jika tidak, maka sang istri berhak keluar rumah untuk mempelajari segala kewajiban yang bersifat fardhu “ain bagi dirinya. Sang suami dilarang mencegahnya, kecuali sang suami bertanya kepada seorang ahli ilmu kemudian memberitahukan jawabannya kepada istrinya, hal ini apabila sang suami termasuk orang-orang yang bisa dipercaya. Tidak ada jalan bagi sang istri untuk keluar menuju ke majelis zikir dan mempelajari ilmu yang bukan fardhu “ain kecuali dengan izin sang suami.

Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam bersabda:

“Paling dahsyatnya dosa yang dibawa oleh seorang hamba ketika bertemu Allah

adalah dosanya seorang hamba saat membiarkan istrinya dalam kebodohan.”

Imam al-Ghazali rabimahullah menyebutkan di dalam kitabnya “al-Ihya’”. Dikatakan, “Sesungguhnya pertama kali yang akan menjerat seorang laki-laki di hari kiamat nanti

adalah istri dan anaknya, mereka memberhentikan dirinya di hadapan Allahu ta’ala. Mereka mengatakan, “Wahai Tuhan kami, ambillah hak kami darinya. Karena sesungguhnya dia tidak pernah mengajarkan suatu perkara yang perlu kami ketahui dan dahulu dia memberi makan kepada kami dengan makanan haram sedangkan kami tidak mengetahuinya! Maka Allah membalasnya untuk mereka.”

Imam al-Ghazali rahimahullah lanjut mengatakan, “Ketahuilah, bahwasanya ilmu dan ibadah merupakan dua buah permata, karena sebab keduanyalah segala apa yang kamu lihat dan kamu dengar dari karangan para pengarang kitab, pelajaran para pengajar, nasihat para pemberi nasihat dan ceramahnya para pemberi ceramah, bahkan 5sebab keduanyalah kitab-kitab suci diturunkan, para Rasul diutus, bahkan sebab keduanyalah langit, bumi dan seisinya diciptakan. Maka renungkanlah isi kandungan dua ayat dari kitab suci Allahu ta’ala yang salah satunya berbunyi:

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (OS. ath-Thalaq (6): 12)

Ayat ini cukup sebagai dalil tentang kemuliaan ilmu, terutama ilmu tauhid. Adapun ayat yang kedua Allahu subhanahu wa ta’ala berfirman sebagai berikut:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi

kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat (51): 56)

Ayat ini cukup sebagai dalil tentang kemuliaan ibadah, dan keharusan untuk melakukan ibadah. Perhatikanlah dengan benar kedua perkara ini! Keduanya merupakan tujuan Allahu subhanahu wa ta’ala menciptakan seluruh makhluk-Nya. Maka wajib bagi seorang hamba untuk tidak sibuk dan tidak memperhatikan kecuali keduanya. Ketahuilah, sesungguhnya ilmu selain tentang keduanya tidaklah ada kebaikan di dalamnya dan tidak akan didapati (hasil) apa pun jika mendalaminya.

Jika kamu telah mengetahui hal ini, maka ketahuilah bahwa ilmu adalah paling bagus dan paling utama di antara kedua permata tadi. Dan dengan hal itu wajib beramal

dengan ilmu, jika tidak maka amalnya sia-sia belaka. Karena kedudukan ilmu seperti sebuah pohon, sedangkan kedudukan ibadah seperti buah. Keutamaan ada pada pohon, karena ia adalah pokoknya, akan tetapi pohon itu akan bermanfaat jika ada buahnya. Maka dari itu, wajib bagimu mengambil bagian dari keduanya. Bahkan seorang hamba berkewajiban mengerjakan 4 hal, yaitu: ilmu, amal, ikhlas dan memiliki rasa takut. Pertama, seorang hamba harus mengetahui jalannya, jika tidak maka ia adalah orang buta. Kemudian yang kedua seorang hamba harus beramal dengan menggunakan ilmu, jika tidak maka ia adalah orang yang terhijab (terhalang). Kemudian yang ketiga seorang hamba harus ikhlas dalam beramal, jika tidak maka ia adalah orang yang lalai. Kemudian yang terakhir seorang hamba hendaknya selalu memiliki rasa takut dan selalu hati-hati dari segala macam penyakit yang dapat menghapus pahala amal, jika tidak maka ia adalah orang yang tertipu. Sesungguhnya segala amal ibadah dilihat akhirnya, dan seorang hamba tidaklah mengetahui dengan amal apa ia akan diakhiri kehidupannya. Semoga Allahu ta’ala mengakhiri hidup kita dengan kebaikan, Amin ya rabbal-‘alamin. Dan semoga Allahu subhanahu wa ta’ala selalu memperbaiki keyakinan dan keteguhan hati kita dan semua kaum muslimin dalam agama. Karena sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker