Rasul-rasul Tuhan dari Anak Negerinya
Sebagai tanda kasih-sayang Tuhan, Ia tidak akan menjatuhkan siksaan sebelum mengutus seorang rasul yang akan memberikan bimbingan kepada manusia dalam mencapai Kebenaran serta menjelaskan pula jalan kebaikan yang harus ditempuhnya. Sekiranya Tuhan akan menghukum manusia karena perbuatan mereka yang salah, niscaya takkan ada makhluk hidup di muka bumi ini yang akan ketinggalan. Tuhan menunda mereka sampai pada waktu tertentu sampai mereka dapat mendengarkan dan mau menerima ajakan para rasul itu dan tidak sampai benar mereka terpesona oleh godaan hidup duniawi. Tuhan tidak mengutus para rasul itu dari kalangan raja-raja, orang-orang kaya, orang-orang berpangkat atau dari kalangan orang cerdik pandai. Mereka diutus dari kalangan rakyat jelata. Nabi Ibrahim tukang kayu, ayahnya pun tukang kayu. Nabi Isa juga tukang kayu di Nazareth. Juga tidak sedikit dari nabi-nabi itu yang tadinya penggembala kambing, termasuk Nabi penutup Muhammad “alaihissalam. Tuhan mengutus para rasul dari rakyat jelata itu untuk memperlihatkan bahwa Kebenaran itu bukan menjadi milik orang-orang kaya atau orang-orang kuat melainkan milik orang yang mencari Kebenaran demi kebenaran semata. Kebenaran yang azali, yang abadi, ialah orang yang baru sempurna imannya apabila ia sudah dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. “Yang paling mulia di kalangan kamu dalam pandangan Tuhan ialah yang paling takwa — yang dapat menjaga diri dari kejahatan.” “Dan bekerjalah, nanti Tuhan akan melihat hasil pekerjaan kamu, dan balasan diberikan hanya sesuai dengan apa yang kamu lakukan.” Dan Kebenaran terbesar ialah bahwa Allah itu Benar, tiada tuhan selain Dia.
Maut akhir dan permulaan hidup. Akhir hidup duniawi dan permulaan hidup akhirat. Soal hidup duniawi yang kita ketahui hanya sedikit sekali. Yang kita ketahui tentang hidup hanya yang berhubungan dengan indera kita, dengan akal kita yang membimbing kita, kemudian dengan jantung kita yang membukakan rahasia hidup itu kepada kita. Sedang mengenai hidup akhirat tak ada yang dapat kita ketahui selain apa yang sudah diterangkan Tuhan kepada kita. Hukum-hukum alam buat kita masih gelap. Ilmunya ada pada Tuhan. Apa yang sudah diterangkan Tuhan dalam Kitab Suci mengenai hal ini sudah memadai kiranya, bahwa itu adalah tempat pembalasan. Kita menyiapkan diri kita dalam dunia ini dengan perbuatan kita, dengan kehendak dan niat kita serta sikap kita sesudah itu: kita bertawakal kepada Allah akan adanya balasan yang adil itu. Sedang apa yang di balik itu soalnya ada pada Tuhan semata-mata.
Sudahkah agaknya mereka sependapat dengan Washington Irving dari kalangan Orientalis dan di luar Orientalis dalam melihat sampai berapa jauh kesalahan mereka dalam menggambarkan jabariah Islam itu? Yang kita catat di sini hanyalah yang ada di dalam Quran. Kita tidak ingin menempatkan masalah ini dalam suatu perdebatan seperti pendapat ahliahli ilmu kalam dari kalangan kaum sufi dan yang lain, termasuk para filsuf dan golongan-golongan tertentu dalam kalangan Muslimin. Yang jelas sekali kesalahan Irving ialah dugaannya bahwa masalah gadza dan gadar (takdir atau nasib) dan ketentuan umur diturunkan dan disebutkan di dalam Quran sesudah Perang Uhud dan setelah terbunuhnya Hamzah sebagai syahid utama. Pada hal ayat-ayat yang sudah kita kutipkan itu ialah ayat-ayat yang turun di Mekah sebelum hijrah dan sebelum peperangan-peperangan dimulai. Irving dan yang semacamnya telah terjerumus ke dalam kesalahan semacam itu sebab mereka tidak mau menyulitkan diri dalam membahas persoalan yang begitu penting dengan cara yang ilmiah dan cermat. Bahkan mereka menggambarkan Islam menurut konsepsi yang sejalan dengan kecenderungan mereka sendiri sebagai orang-orang Kristen, lalu mereka mengarang-ngarang dalil menurut nafsu mereka sendiri, dengan dugaan bahwa dalil mereka itu akan sudah meyakinkan pembaca tanpa ada orang lain yang akan membuktikan kesalahan mereka itu.
Pengertian Filosofis dalam Jabariah Islam
Kalau kalangan Orientalis dapat memahami arti jabariah Islam seperti yang sudah kita gambarkan, niscaya mereka dapat pula menghargai konsepsi filsafatnya yang begitu tinggi, begitu dalam melukiskan hidup ini Sehingga dapat menampilkan teori-teori ilmu dan filsafat. Dan ini telah dicapai oleh pikiran manusia dalam pelbagai zaman dengan segala perkembangan dan kemajuannya. Pengertian filsafat Islam ini ialah bengertian yang berimbang, yang tidak mempersempit pengertian determinisma, dunia sebagai kemauan dan pikiran (die Welt als Wille und Vorstellung) dan evolusi kreatif! Bahkan semua mazhab itu, dalam susunannya mengikuti jalannya hukum alam dan kehidupan. Kalaupun di sini tempatnya tidak cukup memadai untuk menjelaskan gambaran ini, namun akan saya coba meringkaskannya dengan seteliti dan sejelas mungkin. Saya kira orang yang sudah membaca apa yang saya tulis akan sependapat, bahwa dari semua yang pernah kita ketahui tentang teoriteori, pengertian ini memang sangat tinggi, luas dan dalam sekali. Pengertian ini kemudian hari akan membukakan jalan pada pemikiran umat manusia yang lebih agung.
Sebelum saya menjelaskan ini secara ringkas, ada dua masalah ingin saya catat dalam hai ini, hendaknya jangan dilupakan – pertama dengan ini saya tidak bermaksud hendak menentang teori Kristen. Apa yang pernah diajarkan Isa, oleh Islam juga diakui seperti sudah beberapa kali saya sebutkan dalam buku ini. Hanya saja apa yang diajarkan Islam lebih menyeluruh dan memahkotai semua kenabian dan kerasulan sebelumnya. Kitab-kitab Injil telah juga menegaskan kata-kata Yesus ini: “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya.” Begitu juga keimanan Muslimin kepada Ibrahim, kepada Musa, kepada Isa dan nabi-nabi yang lain sebelum itu, semua sama. Hanya saja kedatangan Islam melengkapi apa yang telah diutus Tuhan kepada mereka itu, mengoreksi kata-kata yang telah dibelokkan oleh pengikut-pengikut mereka, dari arti yang sebenarnya. Kedua mengenai filsafat Islam yang diambil dari Quran sudah dikemukakan orang sebelum saya, meskipun tidak sama dengan yang saya kemukakan sekarang ini. Hanya saja yang saya tempuh dalam hal ini sesuai dengan garis tuntunan Quran dan dengan cara yang sesuai dengan metoda ilmiah sekarang. Kalau ini berhasil mencapai sasarannya, sudah tentu karena rahmat dan karunia Tuhan juga. Kalau hasil itu belum juga saya peroleh, maka doa yang paling besar saya panjatkan kepada Tuhan ialah semoga mereka yang berpengetahuan dapat memberi petunjuk kepada saya untuk mencapai sasaran itu.
Yang mula-mula ditentukan oleh Quran ialah bahwa Tuhan sudah menentukan hukum tertentu dalam alam semesta ini, yang tidak berubahubah dan bertukar-tukar. Sudah tentu alam itu bukan hanya planet kita ini saja dengan segala isinya, juga bukan terbatas hanya pada apa yang tertangkap oleh pancaindera kita saja yang terdiri dari planet-planet dan tata surya, tetapi alam itu ialah segala yang diciptakan Tuhan, yang dapat dan yang tidak dapat dirasakan — sensibilia dan insensibilia, yang nyata dan yang gaib. Untuk mengetahui hal ini benar-benar, cukup kalau kita bayangkan bahwa pengetahuan yang ada pada kita memang sedikit sekali, eter yang ada di sekitar kita dan sekitar tata surya yang lain, listrik yang memenuhi eter dan memenuhi bumi kita, jarak yang begitu jauh memisahkan kita dari matahari dan planet-planet lain yang lebih jauh dari matahari, dan di balik planet-planet itu yang jaraknya sampai ribuan tahun cahaya lebih jauh dari matahari.
Kemudian, di balik semua itu yang tiada terbatas, yang takkan dapat dijangkau oleh imajinasi kita, dan yang hanya ada pada Tuhan ilmunya — semua itu berjalan menurut hukum yang sudah pasti tak berubah-ubah. Apa yang sudah kita ketahui semua ini berdasarkan data ilmiah — menurut istilah kita sekarang — yang tidak mencampuradukkan fantasi dengan fakta. Kemudian fakta itu di samping fantasi menjadi makin kecil sampai sedemikian rupa, kemudian fakta itu masih tinggal sejauh yang dapat kita ketahui, yang dapat kita ukur menurut ukuran kita, dan apa yang kita peroleh dengan dasar itu, itulah yang kita sebut hukum alam dan kehidupan. Kalau kita mau melepaskan fantasi kita sebebas-bebasnya untuk menggambarkan betapa kecilnya apa yang kita ketahui itu, tentu contohnya akan banyak sekali di hadapan kita, sehingga ruangan dalam buku ini pun akan terlalu sempit karenanya. Kita ambil misalnya penghuni planet Mars. Mereka membangun sebuah pemancar dengan kekuatan 100.000.000 kilo wat supaya dengan demikian apa yang terjadi di tempat mereka diperdengarkan dan diperlihatkan melalui pesawat televisi kepada kita penghuni bumi ini. Sesudah itu, dapatkah kita menahan pikiran kita? Sedang Mars bukanlah planet yang terjauh jaraknya dari kita, juga bukan yang paling sulit akan dapat kita hubungi.
Pengetahuan kita tentang alam ini yang hanya sedikit sekali, segala yang ada dalam alam itu memberi pengaruh juga kepada kehidupan bumi kita dengan segala isinya. Andaikata satu saja dari planet-planet itu dengan ketentuan dari Tuhan berbeda edarannya, tentu hukum alam itu akan jadi berubah, dan berubah pula hidup kita yang pendek dan sedikit ini, terpengaruh oleh keadaan di sekitar kita, oleh hal-hal yang tiada penting sekalipun. Hidup itu terpengaruh dan tunduk kepada kodrat alam karena peristiwa-peristiwa alam yang besar-besar. Dalam menerima pengaruh itu kadang ia menjurus kepada yang baik, kadang malah menyimpang. Baik dalam tujuan yang menjurus ke arah yang baik atau yang menyimpang, dalam kedua hal itu atas dasar yang mempengaruhinya tidak didorong oleh faktor-faktor kehidupan saja melainkan juga oleh kesediaannya dalam menerima pengaruh kehidupan itu serta kekuatan yang timbal-balik saling mempengaruhi. Ada beberapa faktor tertentu yang dapat memberi pengaruh besar dan beraneka rupa ke dalam jiwa orang. Kemudian pengaruh-pengaruh itu akan saling terdesak ke sudut. Salah satu di antaranya akan jadi juru pemisah, akan jadi batas antara yang baik dengan yang jahat. Yang selebihnya, yang satu akan menjurus kepada yang baik, yang lain kepada yang jahat.









One Comment