Konsultasi yang Tepat
Setelah agak jauh saya mengadakan penyelidikan, tampak oleh say, adanya konsultasi yang tepat sekali disampaikan kepada saya dar beberapa pihak, lebih-lebih lagi — dengan sendirinya — dari kalangan guru, guru besar dan pemuka-pemuka agama. Dan bantuan paling besar saya terima ialah dari Perpustakaan (Nasional) Mesir dan para pejabatnya yang telah mengulurkan tangan memberikan bermacam-macam bantuan, yang sebagai penghargaan tidak cukuplah rasanya ucapan terima kasih saya ini, Memadai juga kiranya bila saya sebutkan, bahwa Tuan “Abd’r-Rahim Mahmud, Korektor bagian Lektur pada Perpustakaan, tidak jarang pula membebaskan saya dari harus pergi sendiri ke perpustakaan serta meminjamkan buku-buku yang saya kehendaki disertai sikap ramah. tamah, baik Direktur atau pejabat-pejabat tinggi lainnya yang bertugas, Juga perlu saya sebutkan, bahwa setiap kali saya mengunjungi perpustaka. an itu sehubungan dengan penyelidikan yang perlu saya lakukan, selalu saya menerima layanan yang begitu baik sekali, baik dari pejabat tinggi atau pejabat bawahan, baik yang saya kenal atau yang tidak saya kenal. Dalam hal saya kadang terbentur pada beberapa masalah, maka datanglah kawan-kawan itu membukakan jalan, sehingga tidak jarang hal ini merupakan bantuan yang besar sekali bagi saya. Sering juga saya jumpai bantuan demikian itu dari Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi, Rektor Al-Azhar, dari sahabat karib saya Ja’far (Pasya) Wali, yang telah meminjamkan beberapa buah buku kepada saya seperti Shahih Muslim dan buku-buku sejarah tentang Mekah. Ditunjukkannya pula beberapa masalah, diantarkannya saya ke tempat yang saya perlukan. Demikian juga sahabat saya Makram “Obaid, telah meminjamkan buku Sir William Muir The Life of Mohammad,’ buku Lammens L’Islam, di samping pertolongan yang saya peroleh dari karya-karya kontemporer yang sangat berharga seperti Fajr’l-Islam oleh Ahmad Amin, Oishah’l-Anbia’ oleh ‘Abd’I-Wahhab an-Najjar, Fil-Adab’l-Jahili oleh Dr. Taha Husain, AlYahud fi Bilad’I-Arab oleh Israel Wolfenson. Selain itu banyak lagi bukubuku lain oleh penulis-penulis kontemporer yang saya sebutkan dalam bibliografi buku-buku lama dan baru, yang saya pergunakan dalam menyiapkan buku ini.
Setiap saya mengadakan penyelidikan demikian ini lebih dalam, ternyata ada beberapa problema di depan saya yang perlu dipikirkan lagi dan diselidiki lebih lanjut guna dapat mengatasinya. Seperti buku-buku sejarah dan tafsir yang telah memberikan petunjuk kepada saya dengan cukup memuaskan, demikian juga halnya dengan buku-buku para Orientalis. Akan tetapi dalam menghadapi masalah-masalah itu tampaknya terpaksa saya harus membatasi diri hanya dalam menyelidiki kehidupan Muhammad saja, dengan tidak mengurangi persoalan-persoalan lain yang kiranya ada hubungannya dengan penyelidikan ini. Kalau saya mau menyelidiki segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah hidup orang yang begitu besar dan cemerlang ini, tentu diperlukan penulisan beberapa jilid dalam ukuran seperti buku ini. Baik juga saya sebutkan, bahwa Caussin de Perceval menulis tiga jilid buku dengan judul Essai sur I’ Histoir des Arabes, jilid pertama dan kedua mengenai sejarah dan kehidupan kabilah-kabilah Arab, jilid ketiga tentang Muhammad dan dua orang khalifahnya, Abu Bakr dan Umar. Demikian juga Tabagat Ibn Sa’d yang terdiri dari beberapa jilid, jilid pertamanya khusus tentang kehidupan Muhammad, sedang yang selebihnya mengenai kehidupan para sahabatnya.
Dalam mengadakan penyelidikan ini pada mulanya memang tidak saya maksudkan hendak melampaui batas sejarah kehidupan Muhammad, sebab saya tidak ingin membiarkan ini nanti menjadi kacau, sehingga akan menyimpang dari tujuan yang saya maksud.
Dalam Batas-batas Biografi, Tidak Lebih
Hal lain yang menahan saya hanya pada batas-batas sejarah hidup ini, ialah karena indahnya dan besarnya peristiwa itu, sehingga yang lain pun rasanya akan tertutup karenanya. Alangkah besarnya Abu Bakr! Alangkah besarnya Umar! Keduanya dalam masa khilafat mereka masingmasing merupakan cahaya bintang sehingga yang lain tertutup karenanya. Betapa besarnya sahabat-sahabat dahulu itu mendampingi Muhammad, dibuktikan oleh generasi demi generasi dan yang kemudian menjadi kebanggaan generasi itu!
Akan tetapi — selama masa hidup Nabi — mereka semua masih dapat bernaung di bawah kebesarannya, masih mendapat percikan sinarnya.
Bagi orang yang menyelidiki sejarah hidup Rasul. tidak mudah akan dapat meninggalkan hal itu untuk berpindah ke soal yang lain. Hai in terasa sekali apabila pembahasan demikian ini didasarkan kepada Metoda ilmiah yang baru, seperti yang akan saya coba ini: yang dengan metoda itu pula justru kelak akan terlihat kebesaran Muhammad, kebesaran yang sekaligus menguasai pikiran, hati nurani dan perasaan manusia, da menanamkan rasa hormat karenanya, hormat dan percaya betapa kuatnya kebesaran itu, yang dalam hal ini baik bagi Muslim atau non-Musiin tidakkan berbeda pendapat.
Kalau kita kesampingkan mereka yang masih fanatik dan kera kepala, yang dalam merendahkan kebesaran Muhammad sudah menjadi kebiasaan mereka, seperti yang dilakukan oleh kaum misi penginjil dan sebangsanya, maka rasa hormat akan kebesaran dan percaya akan kuatnya kebesaran itu akan kita baca jelas sekali dalam buku-buku sarjana-sarjana Orientalis. Dalam Heroes and Hero Worship Carlyle membicarakan Saty pasal tentang Muhammad yang digambarkannya sebagai percikan sing Ilahi yang kudus yang telah diberikan kepadanya. kemudian dilukiskannya rasa hormat atas kebesaran yang luar biasa kuatnya itu. Demikian juga Irving, Sprenger, Weil dan Orientalis lainnya, masing-masing dapa menggambarkan kebesaran Muhammad dengan cara yang kuat sekali Apabila salah seorang di antara mereka itu, dalam memasuki beberapa masalah masih menganggap ada suatu kekurangan pada diri pembawa risalah Islam itu, maka tidak lain itu hanya karena mereka belum lagi mengujinya dan meneliti secara ilmiah yang lebih saksama, atau karena mereka berpegang pada beberapa buku sejarah atau tafsir yang masih diragukan kebenaran sumbernya, dengan melupakan bahwa buku-buku biografi yang pertama itu baru dua abad kemudian sesudah masa Muhammad ditulis orang, dengan menyelip-nyelipkan, — baik dalam sejarah atau dalam ajaran-ajarannya, — Israiliat (dongeng-dongeng Judaica) dan ribuan hadis-hadis palsu. Meskipun kaum Orientalis itu mengakui kenyataan ini, namun mereka tidak mau mengakui kelalaiannya sendiri untuk dapat menentukan sesuatu yang dianggapnya benar itu: padahal dengan sedikit penelitian saja sudah akan dapat ditolak. Di antaranya soal gharanig misalnya, soal Zaid dan Zainab, soal perkawinan atau istri-istri Nabi, yang justru akan menjadi bahan pengujian dan penelitian dalam buku ini.
Sungguhpun begitu saya tidak beranggapan bahwa saya sudah sampai ke tujuan terakhir dalam menyelidiki sejarah hidup Muhammad. Bahkan barangkali akan lebih tepat bila saya katakan, bahwa saya baru dalam taraf permulaan mengadakan penyelidikan dengan metoda ilmiah yang baru ini, dalam bahasa Arab. Segala daya upaya yang saya gunakan dalam hal ini tidak lepas dari, bahwa buku ini baru merupakan taraf permulaan dalam penyelidikan Islam dari segi ilmiahnya. Bilamana sudah ada sarjanasarjana dan ahli-ahli sejarah yang mengkhususkan diri menyelidiki salah satu kurun (perioda) dalam sejarah — seperti Aulard yang khusus ‘ menyelidiki sejarah revolusi Prancis! dan beberapa sarjana lain yang juga menyelidiki masa-masa tertentu dalam sejarah pelbagai bangsa — maka patut sekali bila atas biografi Muhammad ini secara khusus juga diadakan penyelidikan ilmiah yang menyeluruh, yang dapat dilakukan oleh kaum cendekiawan, yang khusus pula dalam bidangnya masing-masing. Tidak sangsi lagi saya, bahwa pengkhususan dan penyelidikan ilmiah untuk waktu yang begitu singkat dalam sejarah tanah Arab serta hubungannya dengan aneka macam bangsa waktu itu, hasilnya akan berguna sekali, bukan saja bagi Islam dan umat Islam, tetapi juga untuk seluruh dunia. Dari segi psikologi dan kehidupan rohani hal ini akan merupakan masalah yang berguna sekali bagi ilmu pengetahuan, di samping penerangan yang akan diperoleh dari segi-segi kehidupan sosial, etika dan hukum. Dalam menghadapi masalah ini ilmu pengetahuan masih saja maju-mundur, terpengaruh oleh pertentangan agama — Islam dan Kristen — serta adanya usaha-usaha yang sia-sia hendak melakukan westernisasi terhadap orang Timur atau kristenisasi terhadap kaum Muslimin, suatu hal yang telah menghasilkan kegagalan dan kekecewaan generasi demi generasi, dan di mana-mana telah menimbulkan pengaruh yang buruk dalam hubungan umat manusia satu sama lain.









One Comment