Mulanya, adalah Kekerasan dan Fanatisma
Gejala pertama kehidupan manusia di dunia ini ialah kekerasan dan fanatisma, seperti firman Allah:
“Ceritakanlah kepada mereka dengan sebenarnya kisah kedua putra Adam itu ketika keduanya mempersembahkan kurban. Dari yang seorang diterima, dari yang lain tidak. Yang seorang berkata: “Akan kubunuh engkau.’ Yang lain menjawab: “Tuhan hanya menerimanya dari orang: orang yang bertakwa. Kalau engkau menggerakkan tangan hendak membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu. Sungguh aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Akan kubiarkan engkau memikul dosaku dan dosamu sendiri, supaya engkau menjadi isi neraka. Dan itulah balasan orang-orang yang melakukan kejahatan.’ Kemudian kehendak nafsunya akan membunuh saudaranya itu diturutinya, maka dibunuhnyalah ia. Dia sudah menjadi orang yang rugi. Kemudian Tuhan pun mengirim seekor burung gagak menggali tanah dengan memperlihatkan kepadanya bagaimana caranya ia menguburkan mayal saudaranya itu. Katanya: “Aduhai! Kenapa aku tidak seperti burung gagak ini, aku menguburkan mayat saudaraku.” Itu sebabnya, ia menjadi orang menyesal sekali. Oleh karena itulah, Kami telah menetapkan kepada anakanak Israil, bahwa barangsiapa membunuh seorang manusia bukan karena suatu pembunuhan atau karena melakukan keonaran di muka bumi ini, maka orang itu seolah membunuh semua manusia. Dan barangsiapa dapat memelihara hidup seorang manusia, maka seolah ia telah menghidupkan semua manusia. Rasul-rasul Kami kepada mereka pun sudah datang, sudah memberikan keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi sesudah itu masih banyak juga di kalangan mereka orang-orang yang melampaui batas melakukan kejahatan di bumi bumi ini.”
Pembunuhan seorang saudara atas saudaranya jelas sekali karena dendam, dengki, perangai yang kasar dan keras hati. Tetapi saudaranya itu orang yang bertakwa, yang takut kepada Tuhan — ketika dikatakan oleh saudaranya: aku akan membunuhmu — ia tidak mau meminta pengampunan Tuhan, bahkan katanya: Akan kubiarkan engkau memikul dosaku dan dosamu sendiri supaya engkau menjadi isi neraka. Ini adalah Suatu dominasi kodrat manusia serta logika hukum terhadap kebesaran Jiwa dan maaf yang sungguh indah. Anak cucu Adam pun berkembang biak di bumi ini. Lalu Tuhan mengutus para nabi kepada mereka dengan memberikan berita gembira di samping peringatan. Tetapi mereka tetap bersikeras, masih dalam kesesatan. Kehidupan rohani mereka jadi beku, hati mereka kaku tertutup. Tuhan mengutus Nuh dengan mengajak golongannya sendiri, supaya hanya Tuhanlah yang disembah sebab “aku kuatir kamu akan mendapat siksaan Tuhan.” Ia pun didustakan oleh masyarakat itu dan hanya sedikit saja yang mau percaya. Sesudah itu berturut-turut datang pula nabi-nabi yang lain sesudah Nuh, datang pula ajaran-ajaran yang menyerukan agar jangan orang mempersekutukan Tuhan. Akan tetapi sikap manusia itu lebih berkuasa, pikiran mereka tetap beku belum dapat memahami. Beberapa macam manifestasi alam ini dijadikannya Tuhan. Setiap ada scorang rasul yang diutus Tuhan, ada yang mendustakannya, ada pula yang membunuhnya. Akan tetapi kekakuan mereka itu berangsur kendor. Dengan datangnya ajaran-ajaran Tuhan secara berturut-turut itu sudah merupakan bibit yang baik juga meskipun lamban sekali tumbuhnya. Sungguhpun begitu namun ada juga meninggalkan bekas. Pernahkah ajaran kebenaran itu pada suatu waktu menjadi hilang! Kalaupun orang sudah terdorong oleh rasa congkak dan Unggi hati terhadap ajaran itu dan dalam beberapa hal mereka memperolok pembawanya, namun bila mercka sudah kembali seorang du, mereka kembali bertanya tanya tentang Kebenaran yang ada dalam ajaran itu. Hanya saja mereka yang dapat memahami kebenaran yang terkandung di dalamnya tidak banyak jumlahnya.
Pada masa Firaun di Mesir para pendetanya percaya akan keesaan Tuhan. Tetapi mereka mengajar orang sebaliknya dengan bermacammacam Tuhan. Tidak lain mereka melakukan itu karena ingin mempertahankan kekuasaan terhadap orang lain dan mempertahankan kedudukan mereka. Malah sengaja mereka memerangi Musa dan Harun ketika keduanya datang kepada Firaun, mengajaknya menyembah Tuhan, dan dimintanya Anak-anak Israil itu dilepaskan pergi bersama mereka.
Oleh Quran juga diceritakan berita tentang para nabi, yang silih berganti selama beberapa generasi di kalangan umat manusia. Tetapi umat itu tetap dalam kesesatan, hanya sedikit saja yang mendapat petunjuk Tuhan dalam mengenal kebenaran itu. Dalam kisah-kisah para nabi ada suatu gejala yang perlu sekali direnungkan. Untuk jelasnya, baik juga kalau kita kembali ke masa Musa dan Isa serta kepada tuntunan Muhammad ‘alaihissalam kemudian.





One Comment