Sejarah

Qasidah Burdah Lengkap Dan Artinya

Fasal Keenam Tentang Kemuliaan Quran

الفصل السادس في شرف القران

دَعْنِي وَوَصْفِيَ آيَاتٍ لَهُ ظَهَرَتْ ۞ ظُهُورَ نَارِ القِرَى لَيْلاً عَلَى عَلَم
Biarkan aku mengurai mukjizat yang tampak pada nabi, bagai tampaknya api jamuan malam hari di atas gunung yang tinggi

فَالدُّرُّ يَزْداَدُ حُسْناً وَهُوَ مُنْتَظِمٌ ۞ وَلَيْسَ يَنْقُصُ قَدْراً غَيْرَ مُنْتَظِمِ
Mutiara bertambah indah bila tersusun, dan tak berkurang nilainya yang tak tersusun

فَمَا تَطَاوَلَ آمَالُ المَدِيحِ إلَى ۞ مَا فِيهِ مِنْ كَرَمِ الأخْلَاقِ وَالشِّيم
Maka harapan para penyanjung Rasul tak kan menjangkau terhadap akhlak mulia dan kepribadian yang ada pada diri beliau.

آيَاتُ حَقٍّ مِنَ الرَّحْمَنِ مُحْدَثَةٌ ۞ قَدِيمَةٌ صِفَةُ المَوْصُوفِ بِالقِدَم
Tanda-tanda kebenaran dari Sang Maha Pengasih, Baru (turunnya), dahulu (maknanya) dan merupakan sifatnya Dzat yang disifati dengan dahulu.

لَمْ تَقْتَرِنْ بِزَمَانٍ وَهْيَ تُخْبِرُنَا ۞ عَنِ المَعَادِ وَعَنْ عَادٍ وَعَنْ إِرَم
Tak bersamaan dengan zaman, Dan ia memberi kabar pada kita tentang tempat kembali, kaum`Ãd dan kota Iram.

دَامَتْ لَدَيْنَا فَفَاقَتْ كُلَّ مُعْجِزَةٍ ۞ مِنَ النَّبِيِّينَ إذْ جَاءَتْ وَلَمْ تَدُمِ
Kekal di sisi kita, mak mengungguli setiap mukjizat dari para nabi, karena mukjizat mereka datang dan tidak abadi.

مُحَكَّمَاتٌ فَمَا تُبْقِينَ مِنْ شُبَهٍ ۞ لِذِى شِقَاقٍ وَمَا تَبْغِينَ مِنْ حَكَمِ
Kokoh, maka tidak meniggalkan keserupaan bagi yang punya perselisihan dan tak mencari hakim.

 مَا حُورِبَتْ قَطُّ إلَّا عَادَ مِنْ حَرَبٍ ۞ أَعْدَى الأعَادِي إلَيْهَا مُلْقِيَ السَّلَمِ
Tidak ditentang kecuali musuh yang sangat memusuhi itu kembali dari perang dalam keadaan menyerah.

رَدَّتْ بَلَاغَتُهَا دَعْوَى مُعَارِضِهَا ۞ رَدَّ الغَيُورِ يَدَ الجَانِي عَنِ الحُرَمِ
Sastranya menolak dakwaan penentangnya, sebagaimana penolakan pencemburu terhadap tangan pendosa dari kemuliaan.

لَهَا مَعَانٍ كَمَوْجِ البَحْرِ فِي مَدَدٍ ۞ وَفَوْقَ جَوْهَرِهِ فِي الحُسْنِ وَالقِيَمِ
Ia memiliki makna-makna bagai ombak samudera dalam memberi, dan si atas mutiara samudera dalam keindahan dan nilainya.

فَمَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى عَجَائِبُهَا ۞ وَلَا تُسَامُ عَلَى الإكْثَارِ بِالسَّأمِ
Maka keajaibanya tak terhitung dan tak terhingga. dan disifati dengan membosankan karena memperbanyak.

قَرَّتْ بِهَا عَيْنُ قَارِيهَا فَقُلْتُ لَهُ ۞ لَقَدْ ظَفِرْتَ بِحَبْلِ اللَّهِ فَاعْتَصِمِ
Sejuklah mata pembacanya, lalu aku katakan padanya: sungguh telah kau beroleh tali Allah maka pegangilah.

إِنْ تَتْلُهَا خِيفَةً مِنْ حَرِّ نَارِ لَظَى ۞ أَطْفَأتَ حَرَّ لَظَى مِنْ وِرْدِهَا الشَّبِمِ
Jika kau membacanaya karena takut panasnya api ladhza, maka telah kau padamkan panasnya ladhza karena airnya yang dingin.

كَأَنَّهَا الحَوْضُ تَبْيَضُّ الوُجُوهُ بِهِ ۞ مِنَ العُصَاةِ وَقَدْ جَاؤُوهُ كَالحُمَمِ
Ia laksana telaga yang wajah-wajah para pendosa dapat putih karenanya, yang merek datang bagaikan arang

وَكَالصِّرَاطِ وَكَالمِيزَانِ مَعْدِلَةً ۞ فَالْقِسْطُ مِنْ غَيْرِهَا فِي النَّاسِ لَمْ يَقُمِ
Lurusnya laksana jalan dan timbangan, Keadilan dari selainya di manusia itu tidak tegak.

لَا تَعْجَبَنْ لِحَسُودٍ رَاحَ يُنْكِرُهَا ۞ تَجَاهُلاً وَهْوَ عَيْنُ الحَاذِقِ الفَهِمِ
Jangan heran pada pendengki yang berusaha mengingkarinya karena pura pura bodoh, padahal ia sejatinya cerdas yang faham,

قَدْ تُنْكِرُ العَيْنُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنَ رَمَدٍ ۞ وَيُنْكِرُ الفَمُ طَعْمَ المَاءِ مِنْ سَقَمِ
Terkadang mata mengingkari sinar matahari karena sakit mata, dan tekadang mulut mengingkari rasa air karena sakit.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker