PELAJARAN KELIMA BELAS
الدّرس الخامس عشر
فى المروءة والشّهامة وعزّة النّفس
PELAJARAN KELIMA BELAS : KEUTAMAAN MURU’AH (KURANG MENJAGA KEHORMATAN DIRI), SYAHAMAH (MENCEGAH HAWA NAFSU) DAN ‘IZZATIN NAFSI (KEMULIAAN DIRI)
يابنيّ : لاخير فى المرء اذا كان قليل المروءة دنئ الهمّة وضيع النّفس مبتذلا بين قومه وعشيرته اذا أهين تصاغر وتذلّل واذا احتقر كان جبّانا فى موضوع الدّفاع عن كرامة نفسه أمثال هؤلاء . يابنيّ : ليسوا أهلا لأن يتشرّفوا بالإنتساب الى طلبة العلوم الدّينيّة ولا أن يكونوا من حملة الشّريعة الإسلاميّة , فيابنيّ : احتفظ بمروءتك ولاتضع نفسك فى غير موضعها واحترس من مخالطة السّفلة ومن معاشرة اللّئام وترفّع عن الدّنايا ولا تكن عبدا لبطنك ولا عبدا لشهواتك
Wahai anakku, tidak ada kebaikan bagi seorang yang sedikit muruahnya (kurang menjaga kehormatan diri), membuat dirinya hina dalam pandangan umat dan teman pergaulan. Apabila seseorang dihina dan dicela, dia akan merasa rendah diri serta kehilangan kemuliaan dirinya.
Wahai anakku, kepribadian orang-orang seperti itu bukanlah watak dan kepribadian orang-orang yang mempelajari Dien, dan tidak patut dimiliki orang-orang yang memegang teguh ajaran syari’at Islam.
Wahai anakku, jaga dan pelihara sifat muruahmu, janganlah engkau dudukkan dirimu pada tempat yang bukan tempatnya. Pelihara dan jagalah dirimu dari pergaulan dengan orang-orang yang rendah akhlaqnya dan tercela. Angkatlah kehormatan dirimu dari sifat-sifat kehinaan, janganlah engkau menjadi budak perutmu (hidup untuk makan ibarat binatang) dan janganlah engkau menjadi budak nafsu syahwatmu dengan memperturutkan apa yang dikehendakinya.
يابنىّ : الفقر من المال لايعدّ فى عيوب الرّجال يعاب المرء بقلّة مروءته لابقلّة ثروته ويحمد على جميل فعاله لاعلى كثرة ماله. من المروءة ان تصون ماء وجهك ان ذلّ السّؤال راضيا بعيش الكفاف بحسبك لقيمات يقمن صلبك فلا تجعل لأحد عليك منّة فى الحصول على شئ من لذّتك الفانية . ومن المروءة ان تنظر الى ذوى الحاجات من إخوانك نظرة الإحترام ونظرة الإشفاق. ومن المروءة اذا ساعدت احد إخوانك بشئ من مالك ان لا تجعل ذالك وسيلة الى إذلاله واحتقاره
Wahai anakku, fakir (kekurangan)dalam masalah harta tidaklah menjadi tercela bagi umat manusia. Seseorang akan tercela jika tidak memiliki sifat muruah, bukan karena sedikitnya harta. Seseorang akan mendapat pujian jika memiliki sifat muruah dan baik dalam bergaul dengan keluarga dan temannya, jadi bukan karena banyak harta.
Sebagian dari sifat Wara’ (orang yang dalam ilmunya) ialah menjaga wajahmu dari kehinaan memita-minta, ridha untuk hidup sederhana apa adanya, makan hanya sekedar untuk penguat badan saja, sebagaimana diterangkan dalam hadits syarif, dari Nabi saw: “Tidaklah anak adam (umat manusia) memenuhi suatu wadah yang lebih jelek daripada perutnya. Hanya sekedar kebutuhan untuk mempertahankan kekuatan tubuhnya saja dia makan. Apabila merasa harus makan banyak, maka hendaklah dibagi isi perutnya, yaitu: sepertiga untuk menyimpan makanan, sepertiga untuk menyimpan minuman, dan sepertiga lagi untuk pernafasan.” (Hadist riwayat Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim dari Miqdad bin Mu’dikariba)
Janganlah engkau memancing seseorang untuk mengungkapkan sesuatu yang telah diberikan kepadamu baik berupa barang ataupun yang lainnya, itu merupakan kesenangan sementara saja.
Sebagian lagi dari cara menjaga kehormatan diri ialah engkau selalu melihat dengan penuh kasih sayang kepada fakir miskin dan orang-orang yang sangat membutuhkan.
Termasuk cara menjaga kehormatan diri yang lain ialah apabila engkau memberikan pertolongan kepada salah seorang teman baik dengan harta ataupun lainnya, janganlah engkau jadikan jalan untuk menghina dan mencela.
يابنيّ : من الشّهامة ان تعفو عمّن ظلمك وانت قادر على الإنتقام منه وتحسن الى من اساء إليك وانت أقوى منه على الإساءة ومن الشّهامة ان تقول كلمة الحقّ ولو على نفسك . ومن الشّهامة ان تحافظ على كرامتك وان كنت فقيرا معدما
Wahai anakku, sebagian dari syahamah (mencegah hawa nafsu) ialah memaafkan orang yang bersalah atau berbuat jahat kepada dirimu, sekalipun dirimu mampu dan kuat untuk membalasnya. Bagian lain dari syahamah ialah berkata benar, sekalipun pada diri sendiri dan menjaga kehormatan diri sekalipun engkau hidup fakir tanpa harta.
يابنيّ : من لم يكن عزيزا فى نفسه لايستفيد بالمال ولابغيره عزّا عزّ النّفس أفضل وأشرف من العزّ بالمال ! فمن عزّة النّفس ان يتجمّل بين النّاس وان كنت فقيرا ! ومن عزّة النّفس ان لا تبوح باتياجك لأحد مهما كانت منزلته عندك . ومن عزّة النّفس ان تصبر على مضض العيش صبرالكرام وان لاترفع حاجتك الى غير مولاك
Wahai anakku, orang yang tidak menjaga ‘izzatin nafsi (kemuliaan diri) maka tidak akan ada manfaat harta dan yang lainnya untuk mencapai suatu kemuliaan.
Kemuliaan diri adalah lebih utamadan lebih mulia daripada kemuliaan harta benda. Sebagian dari kemuliaan diri adalah menunjukkan akhlaq yang baik dihadapan umat manusia, sekalipun engkau fakir. Tidak memperlihatkan hajat kebutuhanmu kepada seseorang yang dekat denganmu. Sebagian lagi dari kemuliaan diri ialah bersabar dikala mendapat kesulitan hidup, dengan kesabaran yang terpuji dan berserah diri kepada Allah, janganlah meminta bantuan selain kepada Rabbmu.
يابنيّ : من عزّة النّفس ومن المروءة والشّهامة ان لا تحتمل الضّيم والإذلال لنفسك ولا لأحد من إخوانك ولا لأحد من أبناء ملّتك ولالوطنك الّذى من طينته خلقت وتحت سمائه تربّيت , قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : ” المؤمن للمؤمن كالبنيان يشدّ بعضه بعضا ” .
Wahai anakku, sebagian dari ‘izzatin nafsi, muriah dan syahamah ialah menjauhkan diri dari melakukan perbuatan yang hina dan rendah untuk dirimu, jauhi perbuatan yang dapat menjatuhkan harga diri teman serta juga menjauhi perkara-perkara yang dapat menjatuhkan nama baik generasi penerus yang menjunjung agama Islam, menjaga nama baik lingkungan dimana engkau berpijak. Rasulullah saw. telah bersabda: “Orang mukmin dengan orang mukmin yang lainnya itu ibarat suatu bangunan, yang satu sama lainnya saling kuat menguatkan.” (Hadits riwayat Bukhari, Muslim dari Abi Musa Al-Asy’ari ra.)









One Comment