Mahallul Qiyam (Berdiri)
Wahai Nabi salam sejahtera bagimu, Wahai Rasul salam sejahtera bagimu. Wahai Kekasih salam sejahtera bagimu, Shalawat Allah bagimu. Telah tiba dengan kehendak Allah sang pemberi syafa’at, Yang memiliki derajat yang dimuliakan. Maka limpahan cahaya memenuhi segala penjuru, meliputi seluruh alam semesta.
Maka berjatuhanlah patung-patung berhala di Ka’bah, Dan tumbanglah sendi-sendi kemusyrikan. Maka dekatlah saat-saat petunjuk, dan benteng kekafiranpun berguncang.
Salam sejahteralah atas kedatanganmu, wahai sang pemilik derajat yang mulia. Wahai Imam dan pemimpin para Rasul, yang dengannya bencana-bencana terhapuskan.
Engkaulah satu-satunya harapan di hari Qiamat, kepadamulah seluruh ciptaan berlindung dari kemurkaan Allah. Kemudian mereka datang memanggil-manggilmu dengan penuh harapan, ketika menyaksikan dahsyatnya kesulitan dan rintangan. Selamat datang wahai penyejuk mataku, Selamat datang wahai kakek Hasan Husein
Maka karena itulah engkau (Saw) bersujud kehadirat Tuhanmu, Maka diserukan kepadamu berikanlah syafa’at, karena engkau diizinkan memberi syafa’at.
Maka atasmu limpahan shalawat dari Allah, Selama cahaya masih bersinar terang benderang. Dan denganmu (Saw) kami memohon kepada Ar-Rahmaan, maka pencipta Arsy mendengar do’a kami.
Wahai pemberi anugerah yang mulia, wahai Tuhan, kumpulkanlah kami dengan Al-Musthafa (Saw). Dan demi Dia (Saw), maka pandanglah kami dengan kasih sayangmu, Dan berilah kami segala yang kami inginkan.
Dan hindarkanlah kami dari segala bencana, Dan jauhkanlah segala kesulitan, dan angkatlah sejauh-jauhnya.
Dan siramilah Wahai Tuhanku serta tolonglah kami, Dengan lebatnya curahan rahmat-Mu. Dan akhirilah usia kami dengan husnul khatimah, Dan terimalah kami dengan baik saat kembali kepada-Mu
Dan terlimpahlah shalawat dari Allah, Baginya (Saw) yang kepadanya terkumpul segala kebaikan.
Ahmad yang tersuci serta keluarganya, dan sahabatnya sebanyak pijaran cahaya.
Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya
Ketika telah lahir Sang Kekasih (Saw), maka beliau tunduk bersujud kepada Allah yang telah menghidupkan dan menciptakan kita.
Dan bimbingan Sang Pencipta selalu menaungi Ahmad (Saw) Setiap waktu secara tersembunyi dan terlihat terang-terangan.
Beliau (Saw) disusul oleh ibunya dan diteruskan oleh Tsuwaibah ra.
Kemudian Halimah rha yang mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan masuk surga.
Dan ketika Tsuwaibah ra menyampaikan berita kepada tuannya tentang kelahiran Muhammad Saw, maka Abu Lahab memerdekannya sebagai tanda suka cita.
Tidaklah Tuhan Yang Maha Pencipta lupa atas kegembiraannya (Abu Lahab)
Dengan kelahiran Musthofa (Saw) sebagaimana tercantum dalam Hadits.
Bahwa siksaan Abu Lahab diringankan pada setiap hari Senin karena kegembirannya atas kelahiran seseorang yang telah menunaikan kewajibannya pada kita. Demikianlah rahmat Allah terhadap seorang kafir, maka tak terbayangkan (anugrah) ketika kegembiraan dari seorang mukmin yang hatinya dipenuhi dengan keimanan.
Maka Halimah ra menyaksikan sedemikian banyak kejadian dari keberkahan Muhammad Saw yang tak mampu diterima logika. Diantara mengalir air susunya (Halimah Ra), yang sebelumnya anaknya tak pernah berhenti menangis (karena lapar sebab susunya tak mengalir sama sekali, karena ja pun kelaparan).
Akan tetapi malam itu, sejak kedatangan Sang Kekasih (Saw), putranya (putra kandung Halimah Ra) tidur pulas dan kenyang (karena air susunya mengalir dengan deras).
Dan mengalir pula air susu ontanya, lalu ia menjadi kuat dan sehat, dan ini merupakan hal yang paling menakjupkan.
Hal ini membingungkan teman-teman yang bersamanya (Halimah Ra), dan ia mendengar pula ucapan salam sejahtera dari pepohonan dan bebatuan kepada Pemimpin Kita (Saw).
Maha Suci Allah yang telah membuat pepohonan dan bebatuan berbicara, menyambut Nabi (Saw) yang terpilih, maka Maha Sucilah Dia Allah Swt.
Wahai Tuhan Kami Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera Selamanya, Pada Kekasih-Mu Yang Telah Menyeru Kami Kepada-Mu
Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya
Maka tumbuh dewasalah Sang Kekasih, dengan sejarah kehidupan yang selalu dalam keridhaan dan tidaklah Beliau (Saw) berbuat maksiat.
Terbimbing dalam pandangan kelembutan Allah yang telah mendidik budi pekertinya dengan sebaik-baik budi pekerti kenabian. Dan kedewasaannya (Saw) hari demi hari tumbuhlah sifat kejujuran, sifat budi pekerti mulia, sifat menjaga kehormatan, sifat kesatria, sifat amanah, sifat bersahabat dan gemar membantu.
Pemilik semangat, keberanian, tenang dan banyak diam, serta segala bentuk sifat mulia yang tak terhitung banyaknya.
Beliau (Saw) digelari Al-Amin (yang bisa dipercaya) dan pada penduduk langit
la-lah Nikmal Amin (sebaik-baik yang tidak berbohong) dan baginya (Saw) Yang Maha Memelihara (Allah) senantiasa menaunginya.
Ibu Beliau (Saw) mengajak menziarahi makam ayahnya di Madinah, di tempat itulah ayahnya menemui ajal.
Dan saat ayah beliau wafat, Nabi Al-Mustofa Saw masih berada dalam kandungan ibunya.
Dan ketika usia enam tahun wafatlah ibunya, dalam perjalanan pulang. Maka Beliau (Saw) diasuh oleh Abdul Muthalib dengan penuh kasih sayang.
Dua tahun kemudian iapun (Abdul Muthalib) wafat. Maka Beliau (Saw) diasuh oleh pamannya Abu Thalib dengan penuh perhatan dan kelembutan.
Beliau (Saw) dilamar oleh Khadijah binti Khuwaylid saat beliau berusia 25 tahun karena Khadijah telah mendengar keajaiban-keajaiban pada diri Sang Pemberi Syafaat (Saw).
Maka Allah mengabulkan cita-citanya lalu Khadijah mendapatkan kesejahteraan dan martabat mulia.
Kemudian Beliau (Saw) menyaksikan permasalahan kesalahpahaman saat peletakan Hajar Aswad setelah diperbaharuinya Ka’bah.
Dari keluasan akalnya dan daya pikir kenabiannya yang cerdas dan teliti. Maha Suci Allah yang telah mengajarinya dan menaunginya (Saw).
Wahai Tuhan Kami Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera Selamanya, Pada Kekasih-Mu Yang Telah Menyeru Kami Kepada-Mu
Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya
Maka datanglah pada Beliau Saw, Malaikat Jibril As membawa wahyu di Gua Hira ketika Beliau Saw beribadah kepada Allah Ar-Rahman.
Kemudian Jibril As memeluknya sebanyak tiga kali lalu melepaskannya dan berkata “Bacalah demi Tuhanmu yang memberi ilmu pada manusia.”
Lalu Beliau (Saw) berdakwah dengan sembunyi-sembunyi selama tiga tahun hingga datangnya perintah menjelaskan terang-terangan tentang perintah Allah.
Maka bertubi-tubi gangguan, sedangkan Beliau (Saw) sangat sabar terhadap ketentuan Tuhannya, dan Beliau (Saw) sangat teramat bersyukur dan tidak ragu dalam menjalankan dakwahnya.
Kemudian wafatlah Khadijah Ra, dan Abu Thalib
ketika usianya genap 50 tahun, maka semakin dahsyatlah gangguan yang beraneka ragam.
Suatu ketika Beliau Saw berkunjung ke Bani Tsaqifah (Thaif) untuk berdakwah, lalu Beliau Saw dilempari batu-batu bahkan dikejar-kejar dan dicemooh oleh anak-anak. Maka datanglah malaikat penguasa gunung dan berkata “Apakah kutimpakan gununggunung di atas mereka?” Dan Beliau
(Saw) berkata “Tidak, tapi aku berharap keturunan mereka kelak memeluk Islam.” Lalu Sang Maha Pencipta memperjalankan Beliau (Saw) ke Masjidil Agsha lalu Para Rasul bermakmum di belakangnya. Yang Beliau Saw kemudian menyaksikan Alam Barzah dan Surga.
Naiklah Sang Kekasih (Saw) menembus lapisan-lapisan langit yang tertinggi dan Arsy serta Al-Kursy, lalu dengan Sang Maha Pencipta kita.
Maka tibalah izin untuk hijrah ke Yatrib (Madinah) yang disitulah terhiaskan wilayah mulia dan terindahkan
Maka Beliau Saw pun bermukim di Madinah selama sepuluh tahun sebagai Da’i dan Mujahid yang para sahabatnya menjadi para pendukungnya.
Tidaklah mereka meninggikan suara ketika dihadapan beliau dan tidaklah mereka mengangkat kepala di hadapan Beliau Saw. Sebagai penghormatan dan pengagungan terhadap kemuliaan Muhammad Saw yang telah mereka baca dan temukan Beliau Saw dalam Al-Ouran.
Mereka telah melihat dari akhlak budi pekerti yang luhur dan banyak pula mereka menyaksikan hal yang tak terjangkau logika.
Dermawan, pemaaf, senang memberi, rendah hati, yang mana batang kurma (mimbar Beliau Saw) terdengar isak tangisnya karena kerinduan dan cintanya. Dan air memancar dari sela-sela jarinya dengan derasnya,
Maka pasukan (para sahabat) minum dengan lahap hingga hilanglah dahaga mereka semuanya.
Demi Allah, mulialah mukjizat-mukjizat Ahmad (Saw) dan telah dimuliakan oleh Yang Maha Memelihara ke derajat yang tinggi.
Beliau Saw telah berjihad 27 peperangan bersama para sahabatnya dengan berjalan kaki.
Maka termuliakanlah (kalian) dengan Beliau Saw serta dengan para sahabatnya serta dengan para tabi’in.
Wahai Tuhan kami pertemukanlah kami kepada perbuatan dan amal mereka.
Wahai Tuhan Kami Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera Selamanya, Pada Kekasih-Mu Yang Telah Menyeru Kami Kepada-Mu









One Comment